When 22 Years Old

 

Hai hai, udah lama nih gak nge-blog lagi, sebuah pembukaan yang membosankan bukan hehehe. Mau sedikit cerita untuk mengawali tulisan di tahun 2022 yang bagi anak kelahiran 2000 berarti menunjukan umur yang kini dimasuki, yap bertengger angka ‘22’—angka cantik pada tahun ini menunjukan gambaran bahwa memasuki umur kepala dua tidak secantik dan seindah ekspektasi semata, bisa dibilang tidak mudah untuk dilalui, bagiku mungkin seperti itu—entah bagimu apakah mudah melaluinya?

Semua perasaan bercampur aduk, banyak pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban dan tangisan yang tak perlu untuk dikeluarkan. Aku yang sekarang mungkin terlihat menyedihkan, seonggok manusia tanpa tujuan, memang membandingkan diri dengan orang lain tak bisa dibenarkan tapi bayangan akan hidup orang lain terus membayangi pikiran. Di umur yang semakin menua ini banyak yang dipertanyakan, apa saja perubahan yang telah dilakukan? Skill apa yang telah ditambah? Apakah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin? Bagaimana dengan ibadah yang dijalankan, apakah semakin mendekatkan dengan yang Maha Kuasa? Atau kini banyak melakukan maksiat hingga mengotori hati?

Hmm… lagi-lagi menghela nafas, banyak yang harus di evaluasi memang. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya muncul dari dalam diri tapi dari luar pun tak kalah banyak. Kapan lulusnya? Nanti mau kerja dimana? Udah punya pacar belum? dan pertanyaan serupa lainnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi buah pikiran, nanti kalau udah lulus mau kerja dimana ya? Ini menjadi point pertanyaan terbesar, memasuki dunia kerja membuat banyak spekulasi menakutkan seperti, apakah diri ini layak dan pantas untuk mengajar? Apakah diri ini punya kapasitas dalam ilmu? Apakah diri ini punya kelebihan?

Mengajar di era sekarang tentu berbeda dengan era yang dulu, anak yang kini berada di bangku sekolah dasar adalah anak generasi alpha yaitu generasi yang paling akrab dengan teknologi digital dan generasi yang diklaim paling cerdas dibading generasi sebelumnya. Mengajar generasi alpha, hmm cukup berat jika dibayangkan tapi juga menjadi tantangan tersendiri, bayangkan ketika memasuki kelas dengan siswa yang dipenuhi banyak rasa ingin tahu, siswa yang paham akan teknologi digital, siswa yang kritis dalam berpikir, siswa yang haus akan atensi dan gambaran siswa lainnya ketika memasuki kelas membuat diri ini tidak siap dan takut.

Harapan aku adalah bisa mengajar di SDIT, SD Qur’an atau SD islam semacamnya (Aamiin), tetapi ketika berkaca ternyata masih jauh dari kata ‘pantas’. Bagaimana cara memantaskan diri agar menjadi guru yang baik? Harus banyak belajar tentunya, walau pembelajaran formal seperti pembelajaran di bangku perkuliahan akan berakhir tapi masih banyak platform belajar lainnya yang bisa dipelajari asalkan ada kemauan, doakan ya semoga diri ini bisa terus belajar kedepannya. Karena memulai sesuatu itu rasanya berat contohnya seperti menulis di blog ini. Ketakutannya bukan hanya ketika nanti mengajar tapi ketika nanti mencoba melamar pekerjaan, walaupun membawa latar belakang pesantren bagiku ini bukanlah jaminan, karena kualitas diri seseorang bukan hanya dilihat dari asal muasal sekolah dan terkadang orang lain berekspektasi besar terhadap lulusan pesantren. Ya memang bukan jaminan tapi tetap harus membawa nilai-nilai baik dan mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari.

Sebagai manusia memang hanya bisa berencana tetapi Allah yang menentukan, dimana pun nanti ditempatkan bekerja semoga bisa membawa banyak kebaikan dan kebermanfaatan. Untuk sekarang hanya bisa berdoa, berikhtiar dan bertawakal. Tak hanya mengenai pekerjaan, pemikiran mengenai jodoh juga kadang terlintas, tapi ini bukan menjadi permasalahan besar, yang harus dilakukan sekarang adalah memperbaiki diri karena tentu memasuki babak baru selanjutnya bukanlah sebuah permainan. Gak apa-apa kok di umur 22 belum memasuki babak kehidupan yang baru, itu artinya Allah memberikan waktu untuk memperbaiki diri dan memperdalam ilmu, gak semua harus dituntut hanya karena sudah memasuki umurnya, seperti di umur 22 ada yang sudah menikah, ada yang sudah memiliki anak, ada yang sudah bekerja, ada yang sudah memulai bisnis, ada yang sudah sukses dan lain sebagainya. Gak bisa dibandingkan dengan orang lain hanya karena sudah memasuki umurnya, karena setiap orang memiliki jalannya masing-masing, yang bisa dilakukan sekarang adalah berusaha menjalani sebaik mungkin apa yang ada di depan.

Di awal dibilang mau sedikit cerita taunya banyak hehehe, ya kalau diceritakan semua tentu banyak kekhawatiran ketika sudah berusia kepala dua tapi di sisi lain jadi memikirkan banyak hal yang harus dibenahi, mungkin lima tahun kedepan tulisan ini akan ditertawakan karena terlalu kekanak-kanakan. Semoga apapun yang akan dijalani nanti itu adalah yang terbaik bagi-Nya. Umur 22 memang dirasa menakutkan tapi kalau tidak menjalaninya dengan bijak sepertinya akan lebih menakutkan, karena pilihan-pilihan yang nanti diambil akan menentukan langkah kedepannya seperti apa.

Komentar