Kapal yang Karam


Kapal yang Karam

By : Ismilia Nur Cahya [Mila Shine] 

Seberapa banyak pasangan yang bercerai karena alasan ketidakcocokan? Banyak. Apakah itu pilihan yang tepat dan menjadi jalan keluar dari setiap permasalahan rumah tangga? Coba dipikirkan kembali sebelum terlambat.


Menikah adalah ibadah dan untuk menyempurnakan separuh agama, bertemunya dua insan yang saling mencintai karena Allah. Menikah bukan hanya sekadar ijab qabul. Ada hak dan kewajiban antara suami istri yang harus dijalani.


Menikah bukan hanya tinggal di bawah atap yang sama, tapi bersama-samanya dua insan untuk membanjiri bumi Allah dengan cinta yang halal, ketika cinta itu ditunjukkan hanya kepada Allah, maka cinta itu tidak akan pernah mati. Akan terus bertumbuh hingga maut memisahkan sampai ke syurga-Nya.


Hana Salsabila, atau Hana, seorang gadis lugu yang telah di didik dengan pendidikan terbaik dari kedua orangtuanya---memiliki latar belakang agama yang kuat. Hana  bagaikan permata yang dijaga dengan penjagaan terbaik hingga akhirnya hari melepaskan permata itu tiba, ia dipindah tangankan kepada seorang laki-laki yang akan mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.


Setelah semua persiapan pernikahan yang hanya berlangsung satu bulan telah rampung dan pernikahan pun berjalan dengan khidmat. Muhammad Hanif. Seorang lelaki sejati yang telah meminang Hana, kini berada dalam keadaan bingung. Perasaan berani seakan telah hilang dari matanya. Pernikahan yang ia kira sudah matang dan penuh keyakinan kini membuatnya goyah.


“Assalamualaikum.” Hana mengucap salam ketika masuk ke kamar utama sebuah rumah sederhana yang baru saja dibeli oleh laki-laki asing yang kini menjadi suaminya.

Tidak ada salam balasan.

Laki-laki asing yang baru saja menikahinya beberapa jam yang lalu, kini asyik bermain handphone tanpa mengindahkan salam Hana. Ia kembali menutup pintu kamar dan mulai membereskan barang-barang yang baru saja dibawanya dari rumah.


“Maaf Mba, ini udah semua saya bawa masuk. Apa perlu saya panggilkan mas Hanif untuk bantu bawa ke kamar?” tanya Pak Hasan, supir pribadi yang membantu perpindahan.

“Tidak usah repot-repot, Pak,” ujar Hana, “biar saya saja yang bereskan.”

“Bapak pulang aja ke rumah, bilang ke umma kalau saya sudah sampai dan sedang beres-beres perpindahan.” Hana segera beranjak dari depan kamar menuju bagian dapur untuk memeriksa perlengkapan dapur yang masih baru.


Hana ingin marah tapi tidak bisa. Mengapa bayangan indah akan pernikahan kini menjadi suram. Bukankah laki-laki itu berjanji akan memanggil asisten rumah tangga yang akan membantu proses perpindahannya ke rumah baru.

 

Pesan whatsapp belum dibaca sama sekali, padahal ia sedang memegang handphone. Hana ingin langsung menghubunginya tapi ia terlalu malu untuk berbicara di telephone atau lebih baik ia kembali memasuki kamar dan berterus terang kepada laki-laki asing itu.

 

Apa aku bisa bertahan dengan cara seperti ini, batin Hana, ia mulai mengambil teko, mengisinya dengan sedikit air dan mulai memanaskan air. Mungkin meminum air hangat dapat membantu sedikit menenangkan dirinya

 

**********************************

 

Matahari semakin menghilang dari cakrawala, awan kelabu mulai menghiasi langit biru. Waktu seakan berjalan cepat dan tugas membersihkan rumah seakan tak kunjung selesai. Hana duduk di sofa, mengelap butiran keringat yang mulai menetes---Hana memang menyukai beres-beres rumah tapi jika dikerjakan seorang diri rasa-rasanya sangat melelahkan.


Adzan maghrib berkumandang, suaranya terdengar sangat dekat. Hana membuka pintu melihat ke sekitar yang sudah mulai gelap. Dimana ya masjid atau mushola terdekat, batin Hana.

“Aku pergi dulu ya, Na.” Suara berat yang sangat ditunggu-tunggu Hana semenjak tadi siang kini terdengar sangat jelas di telinganya.

“Mau pergi ke masjid ya, Mas?” Hana menyingkir dari pintu, membiarkan suaminya pergi tanpa membalas kata-katanya sedikit pun.

 

Apa yang salah dari pernikahan ini? Bukankah semua baik-baik saja, mereka dipertemukan oleh murabbi kemudian saling bertukar CV dan menentukan pilihan dengan shalat istikharah. Proses persiapan selama satu bulan pun berjalan lancar tanpa hambatan seakan memang jalan menuju pernikahan sudah ditakdirkan oleh sang illahi.

 

**********************************

 

Tidak ada yang istimewa di malam pertama pernikahan, Hana memaksakan diri untuk membereskan rumah seorang diri sementara suaminya tak kunjung pulang setelah berpamitan ke masjid.

 

Hana mudah menyesuaikan diri, bahkan setelah shalat subuh dan mengaji beberapa lembar Al-Qur’an ia bergegas menyiapkan diri untuk belanja ke pasar. Ia akan memasak makanan kesukaan suaminya yang ia dapatkan dari CV taa’ruf mereka. Walau sampai sekarang ia tak tahu dimana keberadaan suaminya bahkan panggilan telephone pun tak dijawab.

 

Setelah pulang dari pasar, Hana tetap tidak menemukan suaminya di rumah---ia tak peduli dan segera menuju dapur membuat ayam kecap dan cah kangkung dengan sedikit kecewa tapi semangatnya tidak pernah luntur, ia selalu berdoa kepada yang maha membolak-balikan hati manusia semoga pernikahan yang baru berumur satu hari ini tidak kandas.

 

Prank

 

Suara piring yang terjatuh begitu nyaring terdengar di rumah yang sepi, Hana tak takut kepada hantu atau semacamnya tapi ia lebih takut ke manusia. Apa baru saja itu maling yang telah menjatuhkan piring, batin Hana. Ia segera memeriksa ke ruang makan dan begitu kaget menemukan suami yang telah menghilang di malam pertama pernikahan kini sedang berjongkok membereskan pecahan piring dan terlihat bercak darah pun menetes dari jarinya.

 

“Biar Hana saja yang membereskan pecahannya, Mas,” ujar Hana, “ini betadin dan hansaplasnya, biar Hana bantu balut lukanya, Mas.”

“Aku bisa sendiri.” Hanif langsung duduk di kursi dan mulai membalut jarinya.

“Mas mau sarapan?” tanya Hana yang sudah selesai membereskan pecahan piring.

“Iya, boleh.” Hanif sama sekali tidak menatap mata Hana ketika berbicara.

 

Makanan sudah tersaji di meja, Hanif bagaikan orang yang kelaparan---masakan Hana begitu menggugah selera dan membangkitkan nafsu makannya, sepertinya ini waktu yang tepat bagi Hana untuk membicarakan masalah pernikahan yang tidak wajar ini.

 

“Oh iya … ada yang mau Hana bicarakan, Mas,” ungkap Hana tiba-tiba di sela sarapan pagi.

“Nanti aja, kita kan lagi makan.” Balasnya, ia tak suka jika sedang makan diganggu apalagi diajak berbicara.

 

**********************************

 

Setelah sarapan, Hanif bergegas menuju kamar utama. Ia sedikit kaget ketika memasuki kamar dan mendapati kamarnya itu berisi barang-barang wanita yang baru saja duduk bersamanya. Perasaan bersalah terus mengganggunya semenjak tadi malam, tapi apa boleh buat kini Hanif harus bersiap-siap untuk pergi kerja dan tak ada waktu untuk memikirkan masalah pernikahannya.

 

“Mau pergi kerja ya, Mas?” Hana bertanya ketika melihat suaminya dengan terburu-buru membuka pintu depan rumah, “gak mau pamitan ama istri? Oh iya, aku kan bukan istri … tapi orang asing.” Timpal Hana dan kini tangis yang tak tertahankan itu pecah seketika bahkan suaminya tetap pergi keluar tanpa menganggap Hana---rasa kesal, marah, kecewa dan sedih meluap dalam tangisan.

 

Mengapa laki-laki tak pernah bisa mendengar, batin Hana. Ia terus mengusap air mata yang semakin mengalir dengan deras melewati pipinya.

 

Brak

 

Pintu dibuka dengan begitu keras, Hanif memasuki rumah dengan air mata yang juga berlinang. Ia langsung menuju istrinya dan memeluknya menggambarkan rasa penyesalan yang begitu besar.

 

“Hana … kamu adalah istri sholehah, betapa beruntungnya aku memiliki kamu. Tapi … “ ucapannya terpotong, kini tidak ada suara yang keluar darinya.

Hana melepas pelukan. “Tapi apa, Mas?” ia menatap wajah sendu yang berada di hadapannya.

“Tapi … Mas ragu dengan pernikahan ini.” Hanif memegang bahu Hana, berusaha meyakinkan bahwa sebenarnya pernikahan ini bukan lah jalan terbaik bagi keduanya.

“Kenapa?” Hana semakin terisak, “Kenapa baru bilang sekarang, Mas. Kemana janji yang dulu kau ucapkan di hadapan para saksi lalu kenapa Allah mempermudah semua urusan pernikahan kita”

 

**********************************

 

Hanif mulai bercerita, ia berkata jujur atas apa yang menimpanya selama ini. Sebenarnya ia ragu untuk memulai menikah bahkan ia menikahi wanita yang umurnya tak jauh berbeda kalau saja bukan karena paksaan orangtuanya yang merupakan pendiri pesantren tempat orangtua Hana bekerja maka ia akan menolaknya.

 

Hana adalah gadis yang sholehah, ia bagaikan permata yang banyak diperebutkan oleh kaum adam. Maka orangtua Hanif bersikeras untuk memulai taaruf dengan Hana karena sebenarnya keduanya pun sudah saling mengenal dan sangat disayangkan jika Hana sampai dipinang oleh laki-laki lain.

 

Hanif terlalu banyak dituntut sebagai seorang anak ustadz terkemuka maka ia diharuskan memiliki karakter seperti orangtuanya. Padahal iman tidak bisa diturunkan, pengekangan yang begitu ketat dari kedua orangtuanya membuat Hanif seperti fobia dengan agama bahkan ia mengambil jurusan ilmu komunikasi demi menghindari dimasukkan ke dalam jurusan yang berbau agama. Ketika ia berhasil diterima S2 di Oxford University tapi ia malah disuruh menikah dengan seorang wanita pilihan kedua orangtuanya.

 

Kehidupan Hanif bagai diterkam ombak, ia tak bisa bangkit dan dengan terpaksa menjalankan semua proses pernikahan tanpa protes sebagai ganti karena diperbolehkan kuliah dengan jurusan yang tidak ada kaitannya dengan ilmu agama.

 

Tapi ternyata Hanif tidak siap menjadi seorang kepala rumah tangga, ia mengingkan kebebasan dan kehidupan tanpa paksaan. Hana begitu terhenyuh dengan cerita suaminya, ternyata memaksakan agama pada kehidupan seorang anak itu tidak baik ketika cara yang digunakan salah, terlalu memaksa dan mengekang kehidupan hingga menyebabkan trauma yang mendalam kepada Hanif.

 

“Mas, lakukanlah hal yang seharusnya dari dulu tidak pernah terjadi, ceraikan Hana dan biarkan mimpi-mimpimu terwujud, ini memang jalan halal yang dibenci Allah, tapi kita tidak bisa menjalani kapal secara bersama-sama karena yang ada ketika badai menerpa maka kapal akan langsung karam tak berbekas. Biarlah kapal ini berhenti melaju dan kembali ke dermaga sampai akhirnya kita menemukan kapal yang tepat untuk dinaiki”

 

“Hana dengan sangat berat hati … aku menceraikan kamu.” Hanif dengan mantap mengatakan kata-kata itu.

 

Hana begitu lega mendengar ucapan itu, karena sebuah ucapan ia menjadi  seorang istri dan hanya karena sebuah ucapan kini ia menjadi janda. Biarlah kisah mereka menjadi pembelajaran agar sebuah pernikahan haruslah menjadi berkah setiap langkah demi langkahnya karena dilandaskan atas cinta kepada Allah. Pernikahan yang baru berlangsung satu hari akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan oleh Hana dan juga Hanif.

 

SELESAI




Komentar