Hmm..
kalau dipikir-pikir belum pernah selama ini berada di rumah kecuali pas masih
kecil, ya terakhir lama dirumah ketika dulu masih duduk di bangku sekolah
dasar. Sisa waktu selebihnya dihabiskan untuk merantau, jauh dari rumah itu
sebenarnya bukan hal yang aneh.
Ketika
kini sudah tumbuh besar ternyata bukan diri ini saja yang mengalami perubahan.
Orang tua di rumah yang selalu ditinggalkan pun terus menunjukkan perubahan. Tangan
yang dulu kekar, kini mulai sering merintih ingin dipijat. Tenaga yang dulu
besar, kini mulai melemah meminta tubuh untuk banyak beristirahat. Umur seakan
menguras sedikit demi sedikit energi yang ada, kini hanya rasa sakit yang
tertinggal ketika tubuh bekerja lebih dari pada batasnya.
Demi
anak!
Semua
dikorbankan demi anak, raga memang sudah tak kuat tapi jiwanya masih membara
ingin memberikan yang terbaik. Nasihat lama itu benar, anak tak akan bisa membalas
semua jasa kedua orangtua. Mimpi orangtua itu hanya satu, ingin anaknya menjadi
anak sholeh/sholehah, mimpi yang sederhana tapi kenapa diri ini tak kunjung
mewujudkannya.
Pandemi
ini sungguh memberikan beribu hikmah yang tak terkira nilainya terutama tentang
rasa syukur. Bersyukur ketika masih ada sosok yang akan selalu memberikan cinta
& kasih sayang yang paling tulus tanpa pamrih, tanpa harap jasa dan tanpa
perhitungan. Bahkan ketika seluruh dunia membenci, akan selalu ada sosok yang
mencintai dengan apapun keadaan yang ada. Yaitu kedua orangtua, yang dalam
setiap doanya terselip nama kita. Yang dalam pikirannya selalu memikirkan masa
depan anak-anaknya. Yang selalu mengorbankan hidupnya bahkan nyawanya untuk kebahagiaan
buah hati tersayang. Apapun akan dilakukan demi kebahagiaan orang yang
dicintainya yaitu keluarga.
Dulu
aku selalu menangis ketika melihat langkah kaki kedua orangtua pergi
meninggalkanku dengan kehidupan yang sangat asing, dengan ikhlas melepas
anaknya yang masih berusia 12 tahun menuntut ilmu. Tapi ternyata tidak ada yang
lebih sedih hidupnya dari seorang ibu yang hatinya terluka melepas anak yang
merengek ingin ikut pulang. "Ingin rasanya menengok, memeluk dan membawa
pulang" ungkap Umi di suatu hari, tapi hatinya harus kuat untuk kehidupan
buah hatinya yang lebih baik. Begitulah sosok heroik yang selalu ingin
memberikan yang terbaik dalam kehidupan anaknya, walau harus mengorbankan
waktu bersama dan juga tidak sedikit
uang yang keluar.
Bahkan
ketika aku bersikeras ingin bekerja di Bandung selepas kuliah, selalu ada
guratan kecewa yang terbentuk di wajahnya, butuh waktu untuk memahami ekspresi
kecewa itu, tapi kini rasanya tak ingin segaris pun kekecewaan terukir di
wajahnya. Akan selalu kuukir senyuman terindah ketika aku berada di dekatnya.
Umi
selalu menyukai anak-anak, bahkan aku selalu cemburu jika ia menaruh perhatian
lebih pada anak orang lain. Mungkin sudah lama rumah ini mati, dalam candanya
Umi selalu berharap akan hadirnya anak-anak kecil didalam rumah ini. "Adanya
anak kecil itu bisa membuat rumah tampak hidup" itu lah pesan yang
kutangkap ketika wajahnya begitu sumringah menyambut kehadiran bayi lain di
rumah.
Tapi
aku masih ingin berlama-lama disini, berada di pelukanmu, memperhatikan wajah yang
sudah semakin keriput, rambut yang semakin memutih dan senyum yang tidak pernah
berubah. Senyum yang tulus. Selalu terbesit di pikiran ini, bagaimana nanti
kalau ada seseorang yang membawa pergi anak gadisnya, bunga satu-satunya yang
telah dirawat dari hanya sebuah benih menjadi bunga yang mekar dengan indah. Bunga
itu akan dipindahkan ke kebun yang lain, tanah baru yang belum pernah disentuh
olehnya dan akan meninggalkan tanah tempatnya dibesarkan.
Hati
memang tak bisa dibohongi, rasa ingin selalu dekat dan bersama itu ada dan
nyata. Bahkan dalam candanya selalu terlontar kata-kata "Semoga jodohnya
dekat ya, orang sini aja hehehe" Tak
perlu kubuka kamus untuk menerjemahkan kata-kata itu. Aku paham apa maksud dari
semuanya. Kata-kata itu adalah suara hati seorang ibu yang pernah berada jauh
dari anaknya dan kini tak ingin anaknya menjauh kembali.
Ini
adalah salah satu hikmah pandemi yang kualami, semoga aku bisa berbakti dengan
sebaik-baik bakti kepada kedua orangtua. Lalu apa hikmah pandemi yang kau
alami?
Komentar
Posting Komentar