Wahai tubuh ini bergeraklah!

Coba tanya pada dirimu, berapa umurmu sekarang? 10 tahun kah? 13 tahun kah? 15 tahun kah? Bukan, kamu telah berumur 2 dekade tepatnya 20 tahun. Umur yang sudah seharusnya dewasa dalam bersikap dan bertindak, memang menjadi tua bukan berarti dewasa tapi untuk seseorang yang sudah mengenal agamanya dengan baik seharusnya dapat menemukan makna sejati sebuah kehidupan. Kau tahu bahwa dalam melaksanakan apapun harus selalu melibatkan Allah walaupun itu adalah hal yang kecil, kau tahu orang yang dekat dengan Al-Qur’an adalah orang yang besar, kau tahu bahwa diri ini bukanlah milik kita sendiri, kau tahu bagaimana cara melakukan ibadah yang baik dan benar, kau tahu bahwa harta benda ini hanyalah titipan, kau tahu bahwa Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk arah ketika tersesat, kau tahu dan sangat tahu tapi hanya itu saja. Menyedihkan, kau menginginkan surga tapi jalan yang kau tempuh berarah sebaliknya.

Lalu, untuk apa kau hidup? Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah. Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadahmu? Apakah seperti para sahabat nabi? Apakah seperti para tabi’in? atau apakah seperti para ulama di negeri mu? Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki selama Allah masih memberikan kita umur di dunia ini. Umur yang digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bukan untuk berleha-leha, sebab kita tak tahu kapan ajal menjemput. Kita hanya sedang mengantri menunggu giliran. Mulai perbaiki sekarang bukan nanti!

Manusia juga diciptakan sebagai khalifah di atas muka bumi, ini berarti luas bukan hanya sebagai “Pemimpin” tapi bisa berarti bermanfaat untuk banyak orang, bisa memberikan kontribusi dan andil yang besar dalam bumi ini. Sudahkah kita bermanfaat? Yang termudah bisa terlihat dari orang-orang di sekitar kita seperti keluarga, tetangga, masyarakat. Apa kita sudah bisa memberikan kontribusi untuk perubahan yang lebih baik lagi?

Kita selalu diingatkan untuk meluruskan kembali niat. Iya NIAT! Kita semua paham apa arti niat, apa pengertian dan definisinya, tapi apa sudah tau konsekuensinya? Jika memang sudah berniat maka rintangan sebesar apapun bisa dihadapi dengan hati yang kuat, hati yang tabah dan hati yang tulus tanpa banyak keluh kesah. Banyak yang harus di evaluasi dari sebuah niat, kemana ia akan mengarah, apa ke hal-hal yang baik atau hal-hal yang buruk?

Tubuh ini adalah anugrah, jangan di sia-sia kan, gunakan untuk hal-hal yang baik karena di dalam diri kita ada segumpal darah, jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya tapi jika ia buruk maka buruk pula jasadnya. Yaitu qalbu (hati).

Yuk mi, menjaga niat dan jangan lupa libatkan Allah dalam hal sekecil apapun, berani bermimpi besar, tak henti belajar dan miliki lah skill-skill yang bermanfaat lalu tekun berkarya dan punya habbits yang positif, bekerja lah yang ikhlas mi dengan memberikan ekspektasi yang lebih besar dari tugas yang diberikan, do the best mi! ingat juga ya apresiasi itu dari Allah dan selalu yakin ada jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan karena bersama kesulitan ada kemudahan. Oh iya jangan sibuk tapi produktif tidak ada waktu untuk main-main, tidak ada waktu yang terbuang percuma tapi gunakan sebaik mungkin dengan kegiatan-kegiatan positif, dalam bertekad pun harus kuat kalau sudah berazzam menyelesaikan suatu karya maka bertawakal, jangan lupa udah tua harus bisa dewasa dengan manajemen waktu yang baik dan disiplin. Ingat konsep keberkahan waktu mengerjakan banyak hal dalam waktu singkat dan serahkan semua urusan kepada Allah maka Allah akan kuatkan. Masih ingat dengan hafalanmu? Bukan hanya ingat loh ada tanggungjawab yang harus dipikul, jangan lupa murojaah ya karena dekat dengan Al-Qur’an adalah sebuah nikmat.

Mi jangan lupa bergerak, kamu bukan benda mati yang hanya tergeletak diatas kasur, kamu punya kuasa penuh atas hidupmu, maka prioritaskan mana yang sebaiknya dikerjakan dan mana yang ditinggalkan, lebih bijak dengan kegiatan yang akan dijalani. Mulailah produktif dengan langkah-langkah sederhana dengan tidur di awal waktu dan bangun pertengahan malam, jangan lupa berdzikir, ibadah sunnah mu dan jangan lupa banyak membaca ilmu.

Ingat gak mi, dulu ustadz di hk pernah bercerita tentang mastatho’tum, kurang lebih seperti ini penjelasannya; Syekh Abdullah Al Azzam pernah di tanya oleh muridnya, Hai Syekh apa itu mastatho'tum lantas shekh Abdullah Al Azzam mengajak muridnya kelapangan dan menyuruh mereka untuk lari mengelilingi lapangan dengan semampu mereka. Lalu semua murid itu berlari mengelilingi lapangan hingga letih dan  pergi menepi lapangan. Melihap muridnya telah letih dan beristirahat di lapangan kemudian Sheikh Abdullah Azzam berlari sekuat tenaga mengelilingi lapangan hingga beliau pingsan, ketika melihat gurunya pingsan yaitu Syekh Abdullah, para murid pun berlari untuk menandu dan menunggu sampai syekh sadar. Setelah itu syekh Abdullah akhirnya bangun dan berkata "Inilah yang di maksud dengan mastatho'tum(semampunya atau sesuai dengan kesanggupan). Kita berusaha atau beriktihar semaksimal mungkin sampai Allah Ta'ala yang mengakhiri usaha kita".

Hakikatnya mastatho'tum itu adalah memotivasi diri untuk berusaha atau berikhtiar dengan segala kesanggupannya hingga Allah mengakhiri usaha mereka sesuai dengan kesanggupan yang seseorang miliki. Dengan tujuan agar seseorang tidak menyerah di tengah jalan atau malas dalam berusaha apalagi sampai berputus Asa dari Rahmat Allah Ta'alla.

Jadi mi jika diibaratkan kamu ingin menjadi seorang pelari maka larilah sampai batas kemampuan bahkan sampai muntah sekalipun atau jika kamu ingin menjadi penulis maka tulislah apapun yang ingin kau tulis, ya awalnya memang bukan sesuatu yang bagus tapi jika terus berlatih menulis sampai sudah tahap yang membuat mual, letih, lelah maka disitulah kapasitas meningkat. Semakin banyak overload, pusing bahkan writer’s block itu adalah tahapan kamu beradapatasi kemudian akan memiliki dan membuka potensi baru yang lebih terasah. Yuk bergerak, rebahan tidak akan menghasilkan apapun, mari ciptakan kebiasaan baik. Fighting!

 

Komentar