Untuk diriku yang kuat

 

Teruntuk semua rasa kecewa yang datang bertubi-tubi, bolehkah aku menangis setiap kali kau menyapa hari-hariku? aku tau bahwa bukan hanya diri ini saja yang pernah mengalami kekecewaan, ya tak perlu merasa menjadi orang yang begitu menyedihkan seakan hanya diri sendiri yang pernah terluka. Aku tau banyak diantara manusia di muka bumi ini yang pernah merasa kecewa, sedih bahkan mungkin marah atas kehidupan fana ini, begitupun dengan aku. Manusia yang sudah mulai banyak menyimpang dari jalan kehidupan.

Aku sudah terlalu jauh, tak bisa terukur sudah sejauh mana aku mulai pergi berjalan tanpa arah, semua orang mengira bahwa aku baik-baik saja, tapi itu yang hanya terlihat diluar. Aku memang baik-baik saja, aku makan dengan baik bahkan cukup baik untuk anak yang tinggal di rumah, aku juga selalu cukup beristiharat walaupun aku jarang berolahraga tapi tubuhku dalam keadaan yang baik Alhamdulillah.

Aku hanya merasa hampa, ya seperti ada ruang kosong yang dimana seluruh isi ruangan seakan menghilang meninggalkanku seorang diri didalamnya. Ada yang hilang dan aku mengetahui apa yang sudah hilang tapi aku tak berusaha tuk mengembalikannya kedalam ruangan itu, terasa begitu sulit. Kenapa sulit? Karena tidak ada lingkungan yang mendukungku untuk mencari sesuatu yang telah hilang. Egois sekali aku menyalahkan lingkungan yang tak bersalah, bukankah ini karena diri sendiri yang tak bisa menjaganya.

Kau tau apa yang sudah hilang? (Hati). Hati yang selalu mesra ketika membaca kalam-Nya, hati yang selalu mengadu dan berdoa kepada-Nya dan hati yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Apa hati ini sudah terlalu banyak terisi oleh titik-titik hitam yang mungkin hampir menutupi seluruh permukaannya. Aku ingin kembali ke jalan yang benar, aku ingin ketika diri ini kecewa tidaklah lagi menyalahkan takdir yang telah ditetapkan, aku ingin memiliki hati yang selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan aku ingin menerima diri dengan lebih baik.

Komentar

Posting Komentar