[Resume Video Sistem Pendidikan di Sekolah]
Apakah
sistem/pola pendidikan manusia tidak pernah berubah?
Ya.
Sistem/pola pendidikan manusia tidak pernah berubah. Seperti yang ditunjukan
dalam sebuah video diatas mengenai bukti bahwa pola pendidikan tidak pernah berubah, dimulai
dari menunjukan sebuah gambar telepon masa kini dan membandingkannya dengan
telepon 150 tahun yang lalu sangatlah berbeda, kemudian menunjukan gambar mobil
masa kini dan membandingkannya dengan mobil 150 tahun lalu sangatlah berbeda.
Kemudian gambar selanjutnya adalah sebuah gambar kelas masa kini dan kelas 150
tahun lalu yang tidak ada bedanya sama sekali, disebutkan dalam video bahwa itu
“sangat memalukan”. Artinya selama lebih dari satu abad tidak ada yang berubah
dan seorang pendidik yang sedang mempersiapkan siswa-siswanya itu kembali
dipertanyakan apa benar memang mempersiapkan siswa untuk masa depan atau masa
lalu?
Mengapa
pendidik seakan-akan hanya disiapkan untuk melatih siswa bekerja di pabrik.
Beginilah pola pendidikan masa kini dengan mendudukkan siswa dalam barisan
teratur yang tenang dan diam kemudian memberi intruksi angkat tangan jika ingin
bicara, pendidik memberi waktu istirahat sejenak untuk makan dan sisanya 8 jam
selanjutnya adalah untuk mendikte cara mereka berpikir dan memaksa mereka
berkompetisi untuk mendapatkan sebuah dapat nilai, jadi nilai adalah sebuah huruf
yang menentukan kualitas produk.
Memang
kehidupan yang dahulu berbeda dengan sekarang tapi kita punya masa lalu biarkan
saja itu menjadi pembelajaran. Kita yang sekarang bukanlah dibentuk untuk
menjadi robot zombie. Dunia Telah maju dan kita butuh orang yang mampu berpikir
kreatif, inovatif, kritis dan mandiri.
Kebanyakan
pendidikan di seluruh dunia membuat perlakuan yang sama ke semua peserta didik,
sebagai pembunuh kreatifitas, mendorong individualisme dan sebagai pelaku
kejahatan intelektual. Melawan arus sehingga siswa tidak mampu menemukan bakat
dan memaksa mereka berkompetisi. Seharusnya kita mengambil pelajaran dari apa
yang sudah dikatakan Einsten “Setiap orang adalah jenius, tapi jika menilai
kemampuan ikan dalam memanjat pohon maka seumur hidup ikan itu akan berpikir
dirinya bodoh.” Pendidikan yang mengubah anak-anak menjadi robot, sudah berapa
banyak anak yang nasibnya seperti ikan berenang melawan arus di kelas untuk
menjadi yang terhebat, untuk menjadi yang terbaik dan tidak bisa menemukan
bakat kemudian berpikir bahwa mereka bodoh. Sudah tidak bisa lagi menerapkan
pola pendidikan seperti ini jika masih terjadi maka pendidik bisa dianggap sebagai
pelaku kejahatan intelektual dan sekolah bekerja melebihi tugas dan perannya.
Padahal,
sebagaimana Einstein mengatakan bahwa semua orang itu jenius, namun tidak
dengan pemikiran yang sama. Sekolah memperlakukan semua peserta didik seperti
cetakan pemotong kue atau topi ukuran pas kemudian memberikan sebuah konsep
bahwa “satu ukuran untuk semua orang.” Seperti halnya seorang dokter membuat
resep yang sama untuk semua pasiennya hasilnya akan mengenaskan karena banyak
pasien yang akan bertambah parah, ini jika dikaitkan dengan sekolah maka hal
yang sama akan terjadi. Inilah the real “Mal Praktek Pendidikan” Ketika 1 guru
berdiri di depan 20 siswa yang masing-masing memiliki kelebihan yang berbeda,
kebutuhan yang berbeda, bakat yang berbeda dan cita-cita yang berbeda kemudian
seorang pendidik mengajarkan mereka hal yang sama dengan cara yang sama itu
bisa jadi sebuah tindakan kriminal. Karena menjadi pendidik adalah pekerjaan yang
sangat penting di muka bumi tapi mereka digaji rendah maka tidak heran banyak
siswa bersikap curang atau tidak jujur. Seharusnya pendidik memiliki pendapatan
yang sama dengan dokter karena dokter bisa menyelamatkan jiwa anak tapi seorang
pendidik lebih hebat lagi karena bisa menyentuh hati setiap anak dan membuatnya
benar-benar hidup.
Pendidik
adalah guru yang sering disalahkan tapi sebenarnya bukan mereka masalahnya,
karena guru bekerja pada sistem tanpa ada pilihan atau hak kurikulum yang dibuat
oleh pembuat kebijakan, kebanyakan dari mereka tidak pernah diajar selama
mereka hidup dan hanya terobsesi dengan nilai ujian terstandar bahwa dengan
menjawab pertanyaan “multiple choice” akan menjamin kesuksesan. Ini diluar akal
sehat karena faktanya model ujian ini terlalu sederhana untuk digunakan dan
sebaiknya ditinggalkan sebagaimana perkataan Frederick J. Kelly, yang menciptakan
cara ujian itu sendiri, “model ujian ini terlalu sederhana untuk dilakukan dan
sebaiknya ditinggalkan” —Frederick J. Kelly. Jika sistem di sekolah seperti ini
terus terjadi, hasilnya sangat mematikan.
Padahal semua orang masih punya harapan dan kesempatan untuk memodifikasi.
Seperti layanan kesehatan, mobil, bahkan halaman Facebook. Maka pendidikan
harus ditingkatkan dengan melakukan perubahan, hapus program Common Core dan
ganti dengan memberikan semangat dan menyentuh hati setiap anak di kelas, seperti
contohnya mata pelajaran matematika itu penting tapi jangan menuntut siswa
untuk bisa matematika, tetapi beri kesempatan bagi setiap siswa untuk menyelami
bakatnya. Mari melihat contoh sistem pendidikan Negara Finlandia yang
dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Findlandia
menerapkan waktu sekolah yang singkat, gaji guru yang tinggi, tidak ada PR dan
siswa fokus berkolaborasi dibanding kompetisi. Siswa hanya 20% dari masyarakat
kita, namun mereka adalah 100% masa depan kita semua. Maka wujudkan mimpi
mereka dengan tidak mengajarkan apa yang bisa kita capai. Seperti ikan yang
tidak lagi dipaksa untuk memanjat pohon.
Komentar
Posting Komentar