Apakah sistem/pola pendidikan manusia tidak pernah berubah?

https://youtu.be/-7Fjqhm1Es4 

[Resume Video Sistem Pendidikan di Sekolah]

Apakah sistem/pola pendidikan manusia tidak pernah berubah?

Ya. Sistem/pola pendidikan manusia tidak pernah berubah. Seperti yang ditunjukan dalam sebuah video diatas mengenai bukti bahwa pola pendidikan tidak pernah berubah, dimulai dari menunjukan sebuah gambar telepon masa kini dan membandingkannya dengan telepon 150 tahun yang lalu sangatlah berbeda, kemudian menunjukan gambar mobil masa kini dan membandingkannya dengan mobil 150 tahun lalu sangatlah berbeda. Kemudian gambar selanjutnya adalah sebuah gambar kelas masa kini dan kelas 150 tahun lalu yang tidak ada bedanya sama sekali, disebutkan dalam video bahwa itu “sangat memalukan”. Artinya selama lebih dari satu abad tidak ada yang berubah dan seorang pendidik yang sedang mempersiapkan siswa-siswanya itu kembali dipertanyakan apa benar memang mempersiapkan siswa untuk masa depan atau masa lalu?

Mengapa pendidik seakan-akan hanya disiapkan untuk melatih siswa bekerja di pabrik. Beginilah pola pendidikan masa kini dengan mendudukkan siswa dalam barisan teratur yang tenang dan diam kemudian memberi intruksi angkat tangan jika ingin bicara, pendidik memberi waktu istirahat sejenak untuk makan dan sisanya 8 jam selanjutnya adalah untuk mendikte cara mereka berpikir dan memaksa mereka berkompetisi untuk mendapatkan sebuah dapat nilai, jadi nilai adalah sebuah huruf yang menentukan kualitas produk.

Memang kehidupan yang dahulu berbeda dengan sekarang tapi kita punya masa lalu biarkan saja itu menjadi pembelajaran. Kita yang sekarang bukanlah dibentuk untuk menjadi robot zombie. Dunia Telah maju dan kita butuh orang yang mampu berpikir kreatif, inovatif, kritis dan mandiri.

Kebanyakan pendidikan di seluruh dunia membuat perlakuan yang sama ke semua peserta didik, sebagai pembunuh kreatifitas, mendorong individualisme dan sebagai pelaku kejahatan intelektual. Melawan arus sehingga siswa tidak mampu menemukan bakat dan memaksa mereka berkompetisi. Seharusnya kita mengambil pelajaran dari apa yang sudah dikatakan Einsten “Setiap orang adalah jenius, tapi jika menilai kemampuan ikan dalam memanjat pohon maka seumur hidup ikan itu akan berpikir dirinya bodoh.” Pendidikan yang mengubah anak-anak menjadi robot, sudah berapa banyak anak yang nasibnya seperti ikan berenang melawan arus di kelas untuk menjadi yang terhebat, untuk menjadi yang terbaik dan tidak bisa menemukan bakat kemudian berpikir bahwa mereka bodoh. Sudah tidak bisa lagi menerapkan pola pendidikan seperti ini jika masih terjadi maka pendidik bisa dianggap sebagai pelaku kejahatan intelektual dan sekolah bekerja melebihi tugas dan perannya.

Padahal, sebagaimana Einstein mengatakan bahwa semua orang itu jenius, namun tidak dengan pemikiran yang sama. Sekolah memperlakukan semua peserta didik seperti cetakan pemotong kue atau topi ukuran pas kemudian memberikan sebuah konsep bahwa “satu ukuran untuk semua orang.” Seperti halnya seorang dokter membuat resep yang sama untuk semua pasiennya hasilnya akan mengenaskan karena banyak pasien yang akan bertambah parah, ini jika dikaitkan dengan sekolah maka hal yang sama akan terjadi. Inilah the real “Mal Praktek Pendidikan” Ketika 1 guru berdiri di depan 20 siswa yang masing-masing memiliki kelebihan yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, bakat yang berbeda dan cita-cita yang berbeda kemudian seorang pendidik mengajarkan mereka hal yang sama dengan cara yang sama itu bisa jadi sebuah tindakan kriminal. Karena menjadi pendidik adalah pekerjaan yang sangat penting di muka bumi tapi mereka digaji rendah maka tidak heran banyak siswa bersikap curang atau tidak jujur. Seharusnya pendidik memiliki pendapatan yang sama dengan dokter karena dokter bisa menyelamatkan jiwa anak tapi seorang pendidik lebih hebat lagi karena bisa menyentuh hati setiap anak dan membuatnya benar-benar hidup.

Pendidik adalah guru yang sering disalahkan tapi sebenarnya bukan mereka masalahnya, karena guru bekerja pada sistem tanpa ada pilihan atau hak kurikulum yang dibuat oleh pembuat kebijakan, kebanyakan dari mereka tidak pernah diajar selama mereka hidup dan hanya terobsesi dengan nilai ujian terstandar bahwa dengan menjawab pertanyaan “multiple choice” akan menjamin kesuksesan. Ini diluar akal sehat karena faktanya model ujian ini terlalu sederhana untuk digunakan dan sebaiknya ditinggalkan sebagaimana perkataan Frederick J. Kelly, yang menciptakan cara ujian itu sendiri, “model ujian ini terlalu sederhana untuk dilakukan dan sebaiknya ditinggalkan” —Frederick J. Kelly. Jika sistem di sekolah seperti ini terus terjadi, hasilnya sangat mematikan.

Padahal semua orang masih punya harapan dan kesempatan untuk memodifikasi. Seperti layanan kesehatan, mobil, bahkan halaman Facebook. Maka pendidikan harus ditingkatkan dengan melakukan perubahan, hapus program Common Core dan ganti dengan memberikan semangat dan menyentuh hati setiap anak di kelas, seperti contohnya mata pelajaran matematika itu penting tapi jangan menuntut siswa untuk bisa matematika, tetapi beri kesempatan bagi setiap siswa untuk menyelami bakatnya. Mari melihat contoh sistem pendidikan Negara Finlandia yang dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Findlandia menerapkan waktu sekolah yang singkat, gaji guru yang tinggi, tidak ada PR dan siswa fokus berkolaborasi dibanding kompetisi. Siswa hanya 20% dari masyarakat kita, namun mereka adalah 100% masa depan kita semua. Maka wujudkan mimpi mereka dengan tidak mengajarkan apa yang bisa kita capai. Seperti ikan yang tidak lagi dipaksa untuk memanjat pohon.

Komentar