Cerpen Pendidikan untuk PGSDFAIR 2020

Bismillah, rasanya baru aja kemarin mau menyerah tapi ternyata suntikan semangat itu datang dari arah yang tidak terduga.

Titik bangkit

Kalau menurut teori kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow secara hirarkhis dimulai dari kebutuhan fisiologis merupakan tingkatan kebutuhan yang paling dasar dan merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup secara fisik, yaitu kebutuhan akan makan, minum, tempat berteduh, tidur, oksigen dan pemuasan terhadap kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Apabila semua kebutuhan fisiologis itu terpenuhi atau terpuaskan maka akan muncul kebutuhan-kebutuhan baru yang bersifat kebutuhan psikologis, yaitu rasa aman, kasih sayang, dihargai, sampai pada aktualisasi diri.

Aku merasa berada pada tahap kebutuhan dasar keempat dalam hierarki Maslow yaitu kebutuhan untuk penghargaan dan rasa hormat. Kebutuhan terhadap penghargaan berperan dalam memotivasi perilaku seseorang. Pada titik ini, orang-orang menjadi semakin membutuhkan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain. Orang-orang memiliki kebutuhan untuk mencapai hal-hal dalam hidupnya, kemudian mereka butuh usaha tersebut diakui. Penghargaan menurut Abraham Maslow dikategorikan menjadi dua pada setiap individu, yaitu penghargaan terhadap diri sendiri (harga diri) dan penghargaan dari orang lain.

Ternyata motivasi tidak hanya berbentuk kata 'semangat' yang lalu tiba-tiba boom! sebuah energi besar meledak membangkitkan monster bernama kekuatan. Ternyata apresiasi bisa menjadi titik bangkit ketika motivasi sedang menurun, seperti ada yang membisikkan "Kamu bisa kok, ini bukti hasil kerja kerasmu. Yuk lebih giat lagi." ini adalah sebuah bentuk penghargaan sebagai kebutuhan dasar manusia tapi tentu saja ini bukanlah masterpiece tapi menjadikan ini sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik lagi, terus belajar dan belajar.

Terimakasih kepada PgsdFair, telah memberikan kesempatan untuk mengikuti salah satu dari rangkaian acara hebat ini. Terimakasih juga telah mewujudkan harapan yang membawa angin tuk dapat menerbangkan kembali layang-layang yang hampir putus oleh pisau bernama pesimis.


Teruntuk pendidikan yang membawa begitu banyak harapan. Kupersembahkan sebuah cerita tentangmu dengan judul ‘Harapan & Pendidikan’

Pilar Cahaya

Karya : Ismilia Nur Cahya

Ketika harapan tak berjalan sesuai dengan kenyataan maka kecewa adalah hasilnya. Begitu banyak kekecewaan menghiasi wajah seorang gadis lugu yang tengah duduk di antara tumpukan buku-buku bekas dengan mimpi besarnya. Gadis itu bernama Nayla.

 

Mimpi yang sudah dipupuk sejak dini, ditanam dengan penuh kesabaran dan disiram dengan perjuangan yang penuh oleh air mata kini seakan hancur tak berbekas hanya karena sebuah sindiran, bukan sekali atau dua kali teman-temannya mengejeknya dan bukan hanya sindiran yang diterima olehnya tapi juga tatapan meremehkan. Tatapan tak percaya yang menyangkal mimpi besarnya untuk bisa memiliki gedung-gedung tinggi di ibukota.

 

“Kenapa kita gak pulang ke desa aja, Pak?” tanya Nayla kepada Bapak yang sudah kembali dari tawar menawar buku bekas dengan seorang pembeli.

“Nanti toko ini yang jaga siapa, Nay?” Bapak balik bertanya, sudah berkali-kali pertanyaan yang sama dilontarkan oleh putrinya itu tak sedikit pun menggoyahkan niatnya untuk kembali ke desa. Sudah susah payah ia bertahan hidup di ibukota demi mencari kehidupan yang lebih baik.

“Mimpi Nayla udah mati, Pak,” ucap Nayla sedu, matanya menelisik tajam ke tumpukan buku yang tidak tertata rapih di sampingnya. “Ibukota bukan satu-satunya tempat untuk meraih mimpi dan kehidupan yang lebih baik.”

Bapak menghela napas. “Sabar, Nay.” Ucapnya singkat dan bergegas kembali ke depan untuk melayani pelanggan yang baru saja datang.

Kenapa Bapak selalu menghindar setiap kali membahas tentang keinginanku untuk kembali ke desa. Batin Nayla.

 

Bukankah jalan kehidupan seakan menggariskan untuk jatuh sedalam-dalamnya ke lubang bernama takdir yang tidak pernah memihak. Begitu banyak ketidakadilan dalam hidup ini, selepas Ibu telah tiada setelah melahirkan Nayla, Bapak seperti kehilangan seluruh kehidupannya. Ia merasa tersiksa hidup dalam penderitaan tanpa wanita yang dicintainya.

 

Bapak meneruskan mimpi Ibu untuk bisa memiliki rumah di ibukota dan bekerja disana, ia sudah membulatkan tekad untuk pergi ke ibukota dengan menjual seluruh tanah dan rumah di desa untuk modal memulai hidup di Jakarta. Tanpa saudara, tanpa kenalan bahkan tanpa tahu tempat tujuan. Bapak dengan penuh kepercayaan diri membawa Nayla yang masih berumur sepuluh tahun untuk pergi ke Jakarta, tempat dimana gedung-gedung pencakar langit berdiri, tempat harapan baru datang dan tempat mimpi-mimpi besar itu bermula.

 

Penyesalan terbesar Bapak adalah menjadi orang baik di tengah ibukota yang kejam. Setelah tertipu ketika membeli rumah dan penipu itu membawa kabur uang dari hasil penjualan tanah di desa. Membuat Bapak harus berkerja keras untuk sekadar mengisi perut yang kosong dan berteduh dari terik matahari dan dinginnya hujan. Perjuangannya dari hasil bekerja serabutan selama satu tahun ternyata membuahkan hasil. Kami tak lagi pindah-pindah rumah susun dan juga tak lagi membagi satu porsi makanan untuk berdua.

 

Roda kehidupan berputar—nasib baik datang. Bapak diterima bekerja di pabrik sepatu sebagai seorang supir truk pengangkut barang tapi itu tidak bertahan lama setelah mengalami kecelakaan di jalan tol membuatnya tak bisa lagi menyetir dan kini bapak beralih profesi sebagai penjual barang bekas di Pasar Loak, lebih tepatnya buku-buku bekas dari mulai buku pelajaran, buku cerita bahkan Al-Qur’an pun tersedia di toko ini—tempat Bapak kembali menemukan harapan hidup. Nayla lebih suka saat Bapak bekerja di pasar karena akhirnya ia memiliki waktu bersama dengan satu-satunya orang yang akan selalu memberikan cintanya walaupun seluruh dunia membenci. Selain itu ia sangat menyukai buku maka menghabiskan waktu luang dengan membaca dan membantu Bapak bekerja adalah kegiatan yang paling menyenangkan selepas pulang sekolah.

Bapak kembali menghampiri Nayla yang sedang melamun di pojok toko, “Udah hampir tiga bulan kamu merajuk mau pulang ke desa, Nay,” ucap Bapak memecah lamunan Nayla. Ia menoleh kearah suara berat itu dan kembali menatap lantai yang beralaskan kardus.

“Semenjak Bapak tidak bekerja sebagai supir, kamu juga jarang bergaul dengan teman-teman sekolah,” keluh Bapak. “Apa kamu malu punya Bapak yang seperti ini?” pertanyaan Bapak itu bagai mengiris hati, perih dan begitu menusuk. Bukan itu maksud Nayla, ia hanya tidak tahan dengan sikap dan perlakuan teman-temannya.

 

****************************************

 

Nayla memang berbeda dari teman-teman di sekitarnya. Ketika teman-temannya banyak bolos sekolah untuk pergi mengamen. Ia memilih untuk duduk manis mendengarkan pelajaran yang bahkan sulit untuk dicerna dan ketika kebanyakan dari mereka malas belajar maka Nayla adalah yang paling semangat menuntut ilmu walau ia bukan termasuk kategori siswa yang cerdas, bahkan ketika ketika teman-temannya mengajak untuk menjadi pencuri kecil di terminal ia menolaknya, Nayla tak ingin terjerumus dalam hal yang tidak baik dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Ajaran berperilaku baik melekat pada dirinya.

 

“Gak usah banyak banyak gaya lu, Nay.” Celetuk seorang siswa laki-laki di pintu kelas.

“Apaan sih, minggir gak! Aku mau keluar.” Tukas Nayla yang berusaha untuk keluar kelas.

“Heh anak kampung! Belajar aja sana yang rajin, padahal ujung-ujungnya juga jadi pemulung.” Ejek Rani yang baru saja memasuki kelas.

Seluruh kelas seketika riuh dengan suara tawa, ini adalah makanan sehari-hari Nayla dan ia berusaha menelannya tanpa perlu mengeluarkan balasan.

 

Sepulang sekolah biasanya Nayla akan pergi ke pasar, membantu bapak bekerja tapi kali ini ia memutuskan untuk bersantai di pinggir tanggul yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan. Ketika sedang asyik memandang ke salah satu gedung tinggi, tiba-tiba ia dikagetkan dengan segerombolan anak-anak yang berusia lebih muda darinya berlarian di pinggir tanggul dengan wajah semringah, anak-anak itu terus meneriaki sebuah nama “Kak Rika!”

 

Nayla tertuju pada sosok yang dipanggil oleh anak-anak itu. Seorang perempuan muda sepertinya berumur duapuluh tahun keatas mengenakan gamis dan jilbab polos dengan senyum tulus itu tengah dikerumuni oleh anak-anak. Apa yang membuatnya begitu istimewa, pikir Nayla. Ia terus memperhatikan sosok itu dari atas hingga bawah sampai tidak sadar ada seorang anak laki-laki yang menabraknya dari belakang.

 

Brak

 

Seketika lamunannya buyar oleh rasa sakit, ia tidak memiliki keseimbangan saat anak laki-laki itu menabraknya hingga terjerembab. Ketika ia menatap ke depan sebuah tangan terulur membantunya berdiri.

 

“Ada yang sakit gak?” Suara lembut itu menyapanya. Nayla mendongak kearah suara itu berasal dan terkejut karena pemilik suara lembut itu adalah sosok yang sedari tadi ia amati.

“Halo, aku Rika, sepertinya kakak baru pertama kali liat kamu disini.” Jelas Kak Rika dengan senyum tulusnya.

“I—ya, Kak … aku baru lewat sini, namaku Nayla.” Ucap Nayla gugup.

“Nayla baru pulang sekolah ya?” tanya Kak Rika yang melihatnya masih menggunakan seragam merah putih. Nayla mengangguk mengiyakan dan ia masih malu untuk hanya sekadar bicara pada kakak cantik didepannya.

“Nayla mau ikut belajar lagi bareng kakak gak?” ajak Kak Rika yang langsung disambut dengan anggukan kecil.

 

Nayla bergegas pulang ke rumah untuk mengganti baju dan membawa buku beserta alat tulisnya dan ia berlari terburu-buru dengan perasaan menggebu-gebu untuk menemui Kak Rika. Sesampainya di mushola kecil yang ditunjukan Kak Rika ia langsung masuk dan duduk di baris paling belakang. Pelajaran kali ini adalah berhitung perkalian yang sampai ia duduk di kelas lima pun masih belum bisa dikuasai tapi pembelajaran yang dilakukan Kak Rika begitu menyenangkan.

 

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat walaupun pembelajaran yang menyenangkan ini berlangsung hingga sore hari rasanya seperti hanya baru berjalan beberapa detik. Disini kami tidak hanya belajar mata pelajaran tapi juga diajarkan membaca iqro dan juga disuguhi berbagai macam buku cerita bahkan permainan yang mengasyikan. Rasanya sangat menyenangkan dan ia tidak ingin kebahagiaan ini cepat berakhir.

 

Setelah shalat ashar dan belajar iqro itu berarti pembelajaran oleh Kak Rika sudah berakhir, begitu banyak wajah penuh harap yang ingin Kak Rika tetap disini dan tidak kembali pulang. Tapi Kak Rika berjanji akan datang lagi besok dengan membawa permainan yang lebih seru.

 

****************************************

 

Bapak sangat mendukung Nayla untuk mengikuti setiap kegiatan belajar bersama Kak Rika. Hari-hari berikutnya dari hari senin sampai hari jumat selepas pulang sekolah ia tak pernah absen untuk belajar di Rumah Cahaya—nama yang diberikan Kak Rika untuk mushola kecil yang digunakan sebagai tempat belajar.

 

Dalam suatu kesempatan Nayla bertanya kepada Kak Rika tentang latar belakang membangun Rumah Cahaya dan jawabannya membuat Nayla terkesima. “Karena kakak yakin dari dalam rumah Allah ini akan lahir cahaya-cahaya baru yang akan menerangi gelapnya dunia.”

Nayla saat itu tidak paham maksud dari perkataan Kak Rika. “Rumah Allah?” tanyanya dengan polos.

“Iya, tempat ini adalah rumah Allah, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim. Karena itulah, Allah begitu sangat mencintai tempat ini dan orang orang yang berjalan menuju kesini untuk beribadah.” Jelas Kak Rika yang membuat Nayla berpikir keras untuk memahami setiap kata demi katanya.

“Kita kan belajar Kak, bukan beribadah.” Tambah Nayla.

Kak Rika hanya tersenyum melihat tingkah laku Nayla yang sangat polos. “Ibadah itu tidak hanya shalat, Nay. Apapun yang kita lakukan kalau diniatkan karena Allah itu akan menjadi ibadah.”

 

Jika ada pertemuan maka akan ada pula perpisahan, sudah genap satu tahun Nayla bertemu Kak Rika dan mengambil banyak pelajaran hidup darinya dan ia tidak menyangka ketika selesai bercerita mengenai mimpi besarnya di ibukota sembari memakan bakso yang terlalu banyak kandungan tepung daripada daging adalah moment terakhirnya bertemu Kak Rika, karena keesokan harinya ia mendengar kabar duka. Kak Rika yang tengah dalam perjalanan pulang mengalami tabrak lari ketika sedang menyebrang mencari angkot untuk pulang.

 

“Nay, udah seminggu semenjak kepergian kak Rika dan kamu masih belum mau sekolah bukannya sebentar lagi ujian nasional.” Tegur Bapak.

“Kak Rika mungkin sudah tidak ada tapi jiwanya terus membara di hati setiap anak didiknya, kamu bisa terus memperjuangkan mimpi kak Rika. Untuk menebar banyak cahaya, Nay.” Tambah Bapak.

 

Semenjak mendengar nasihat Bapak. Nayla mendapatkan suntikan semangat bahwa ada mimpi yang harus menjadi kenyataan, ada senyum yang harus dikembangkan dan ada cahaya yang harus disebarkan.

 

Nayla tidak berasal dari keluarga yang berada tapi ia selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya. Semenjak bertemu Kak Rika ia mulai berubah, lebih banyak menerima daripada meminta, lebih banyak berdoa daripada mengeluh dan lebih banyak berjuang daripada berleha-leha. Sudah diputuskan ia akan menjadi seperti Kak Rika, maka ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan menyebarkan cahaya dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

 

Ada orang-orang yang dengan mudahnya menempuh pendidikan tinggi dengan fasilitas mewah dan biaya yang besar tapi ada pula yang harus bekerja keras membanting tulang untuk hanya sekadar membiayai sekolah. Begitulah kehidupan ada yang dengan mudah mendapatkan sesuatu karena berasal dari keluarga kaya raya dan ada yang harus tertatih untuk sekadar mengganjal perut yang lapar. Sudah diputuskan walau tidak terlahir dari keluarga yang berada tapi ia bisa menempuh pendidikan dengan hasil kerja kerasnya.

 

****************************************

 

“Kita gak punya uang buat lanjut S2, Nay.” Ucap Jefri, salah satu teman dekat Nayla di Universitas Negeri ternama di Jakarta.

“Asal ada kemauan pasti ada jalan, kan bisa apply beasiswa juga.” Balas Nayla.

Jefri menghela nafas berat. “Kalau kamu punya cita-cita untuk mengajar anak-anak pinggiran tanggul buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi, tinggal cari suntikan dana buat biaya sekolah mereka udah selesai.”

“Bukannya masalah ini udah pernah dibahas. Kalau tujuan aku sekolah tinggi bukan hanya sekadar mengajar, tapi aku punya mimpi yang lebih besar.” Nayla berkata dengan penuh keyakinan.

 

Kemauan yang dirawat dengan kerja keras dan disirami dengan tekad yang kuat akan menghasilkan hasil sesuai dengan apa yang diperjuangkan. Selalu bersyukur dan berusaha lebih daripada yang orang lain lakukan bahkan harus ditempa lebih keras agar mampu menjalani hidup yang lebih baik. Setiap orang memiliki privilege masing-masing. Ada mimpi-mimpi yang begitu mudah didapatkan dan ada pula yang harus tersungkur, terjatuh bahkan berdarah-darah untuk meraihnya. Mimpinya sama tercapai tapi dengan effort yang berbeda, ketika kehidupan harus terus berjalan walau diiringi dengan peluh, airmata dan pengorbanan itu tak sebanding nilainya dari hanya meminta-minta kepada orangtua.

 

Nayla Nur Cahya, namanya adalah doa yang dibisikan ke bumi dan dijawab oleh langit, Baginya pendidikan itu tidak hanya merubah seseorang yang tidak tahu menjadi tahu tapi urgensi sejati dari pendidikan adalah merubah yang kelam menjadi terang. Menjelaskan arti kehidupan yang dapat memanusiakan manusia dan memberi harapan bahwa pendidikan tidak hanya milik kalangan berada tapi bisa dimiliki oleh siapapun yang mau berusaha keras. Maka dari itu Nayla bersikeras ingin menuntut ilmu setinggi mungkin dan dapat memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya dari ilmu yang dimiliki.

 

Sekolah Pilar Peradaban Adalah Contoh Pendidikan Terbaik yang Dilahirkan Bangsa Indonesia.

 

Sebuah headline berita yang terpampang di hampir semua televisi lokal itu memuat berita tentang sekolah gratis yang didirikan Nayla. Sekolah yang mampu menampung banyak anak yang membutuhkan pendidikan tapi tidak mampu secara finansial. Nayla menerapkan pendidikan adab sebelum ilmu dan berlandaskan agama yang nantinya akan melahirkan anak-anak yang beradab dan berakhlak mulia.

                                                                              TAMAT

_________________________________________________________________________________


“Ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan maka kecewa adalah hasilnya, pasrah akan keadaan padahal semesta sedang bekerja membuat luka menjadi teman agar kelak sebuah perjuangan tak hanya mengenal keberhasilan. Ada kalanya kita perlu memeluk ego dalam diri, berkompromi pada hati karena hidup adalah rangkaian perjuangan. Jalan juang yang penuh tantangan, tak selamanya kita berjalan di atas bukit, terkadang kita harus melewati lembah, menghadapi berbagai kemungkinan jatuh, tergelincir bahkan menghadapi ketakutan yang tak pernah terbayangkan. Ketika beribu kesulitan menghadang sungguh Allah telah menyiapkan kemudahan sesudahnya.”  –Nayla Nur Cahya.


Komentar