Bismillah, rasanya baru aja kemarin mau menyerah tapi ternyata suntikan semangat itu datang dari arah yang tidak terduga.
Titik bangkit
Kalau
menurut teori kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow secara hirarkhis dimulai
dari kebutuhan fisiologis merupakan tingkatan kebutuhan yang paling dasar dan merupakan
kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup secara fisik, yaitu kebutuhan akan
makan, minum, tempat berteduh, tidur, oksigen dan pemuasan terhadap kebutuhan
untuk kelangsungan hidup. Apabila semua kebutuhan fisiologis itu terpenuhi atau
terpuaskan maka akan muncul kebutuhan-kebutuhan baru yang bersifat kebutuhan
psikologis, yaitu rasa aman, kasih sayang, dihargai, sampai pada aktualisasi
diri.
Aku
merasa berada pada tahap kebutuhan dasar keempat dalam hierarki Maslow yaitu
kebutuhan untuk penghargaan dan rasa hormat. Kebutuhan terhadap penghargaan
berperan dalam memotivasi perilaku seseorang. Pada titik ini, orang-orang
menjadi semakin membutuhkan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain.
Orang-orang memiliki kebutuhan untuk mencapai hal-hal dalam hidupnya, kemudian
mereka butuh usaha tersebut diakui. Penghargaan menurut Abraham Maslow dikategorikan
menjadi dua pada setiap individu, yaitu penghargaan terhadap diri sendiri
(harga diri) dan penghargaan dari orang lain.
Ternyata motivasi tidak hanya berbentuk kata 'semangat' yang lalu tiba-tiba boom! sebuah energi besar meledak membangkitkan monster bernama kekuatan. Ternyata apresiasi bisa menjadi titik bangkit ketika motivasi sedang menurun, seperti ada yang membisikkan "Kamu bisa kok, ini bukti hasil kerja kerasmu. Yuk lebih giat lagi." ini adalah sebuah bentuk penghargaan sebagai kebutuhan dasar manusia tapi tentu saja ini bukanlah masterpiece tapi menjadikan ini sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik lagi, terus belajar dan belajar.
Terimakasih kepada PgsdFair, telah memberikan kesempatan untuk mengikuti salah satu dari rangkaian acara hebat ini. Terimakasih juga telah mewujudkan harapan yang membawa angin tuk dapat menerbangkan kembali layang-layang yang hampir putus oleh pisau bernama pesimis.
Teruntuk pendidikan yang membawa begitu banyak harapan. Kupersembahkan sebuah cerita tentangmu dengan judul ‘Harapan & Pendidikan’
Pilar
Cahaya
Karya : Ismilia Nur Cahya
Ketika harapan tak berjalan sesuai dengan kenyataan
maka kecewa adalah hasilnya. Begitu banyak kekecewaan menghiasi wajah seorang
gadis lugu yang tengah duduk di antara tumpukan buku-buku bekas dengan mimpi
besarnya. Gadis itu bernama Nayla.
Mimpi yang sudah dipupuk sejak dini, ditanam dengan
penuh kesabaran dan disiram dengan perjuangan yang penuh oleh air mata kini
seakan hancur tak berbekas hanya karena sebuah sindiran, bukan sekali atau dua
kali teman-temannya mengejeknya dan bukan hanya sindiran yang diterima olehnya
tapi juga tatapan meremehkan. Tatapan tak percaya yang menyangkal mimpi
besarnya untuk bisa memiliki gedung-gedung tinggi di ibukota.
“Kenapa kita gak pulang ke desa aja, Pak?” tanya Nayla
kepada Bapak yang sudah kembali dari tawar menawar buku bekas dengan seorang
pembeli.
“Nanti toko ini yang jaga siapa, Nay?” Bapak balik
bertanya, sudah berkali-kali pertanyaan yang sama dilontarkan oleh putrinya itu
tak sedikit pun menggoyahkan niatnya untuk kembali ke desa. Sudah susah payah
ia bertahan hidup di ibukota demi mencari kehidupan yang lebih baik.
“Mimpi Nayla udah mati, Pak,” ucap Nayla sedu, matanya
menelisik tajam ke tumpukan buku yang tidak tertata rapih di sampingnya. “Ibukota
bukan satu-satunya tempat untuk meraih mimpi dan kehidupan yang lebih baik.”
Bapak menghela napas. “Sabar, Nay.” Ucapnya singkat
dan bergegas kembali ke depan untuk melayani pelanggan yang baru saja datang.
Kenapa
Bapak selalu menghindar setiap kali membahas tentang keinginanku untuk kembali
ke desa. Batin Nayla.
Bukankah jalan kehidupan seakan menggariskan untuk
jatuh sedalam-dalamnya ke lubang bernama takdir yang tidak pernah memihak. Begitu
banyak ketidakadilan dalam hidup ini, selepas Ibu telah tiada setelah melahirkan
Nayla, Bapak seperti kehilangan seluruh kehidupannya. Ia merasa tersiksa hidup
dalam penderitaan tanpa wanita yang dicintainya.
Bapak meneruskan mimpi Ibu untuk bisa memiliki rumah
di ibukota dan bekerja disana, ia sudah membulatkan tekad untuk pergi ke ibukota
dengan menjual seluruh tanah dan rumah di desa untuk modal memulai hidup di
Jakarta. Tanpa saudara, tanpa kenalan bahkan tanpa tahu tempat tujuan. Bapak
dengan penuh kepercayaan diri membawa Nayla yang masih berumur sepuluh tahun
untuk pergi ke Jakarta, tempat dimana gedung-gedung pencakar langit berdiri,
tempat harapan baru datang dan tempat mimpi-mimpi besar itu bermula.
Penyesalan terbesar Bapak adalah menjadi orang baik di
tengah ibukota yang kejam. Setelah tertipu ketika membeli rumah dan penipu itu
membawa kabur uang dari hasil penjualan tanah di desa. Membuat Bapak harus berkerja
keras untuk sekadar mengisi perut yang kosong dan berteduh dari terik matahari
dan dinginnya hujan. Perjuangannya dari
hasil bekerja serabutan selama satu tahun ternyata membuahkan hasil. Kami tak
lagi pindah-pindah rumah susun dan juga tak lagi membagi satu porsi makanan
untuk berdua.
Roda
kehidupan berputar—nasib baik datang. Bapak diterima bekerja di pabrik sepatu
sebagai seorang supir truk pengangkut barang tapi itu tidak bertahan lama setelah
mengalami kecelakaan di jalan tol membuatnya tak bisa lagi menyetir dan kini
bapak beralih profesi sebagai penjual barang bekas di Pasar Loak, lebih
tepatnya buku-buku bekas dari mulai buku pelajaran, buku cerita bahkan Al-Qur’an
pun tersedia di toko ini—tempat Bapak kembali menemukan harapan hidup. Nayla
lebih suka saat Bapak bekerja di pasar karena akhirnya ia memiliki waktu
bersama dengan satu-satunya orang yang akan selalu memberikan cintanya walaupun
seluruh dunia membenci. Selain itu ia sangat menyukai buku maka menghabiskan
waktu luang dengan membaca dan membantu Bapak bekerja adalah kegiatan yang
paling menyenangkan selepas pulang sekolah.
Bapak
kembali menghampiri Nayla yang sedang melamun di pojok toko, “Udah hampir tiga
bulan kamu merajuk mau pulang ke desa, Nay,” ucap Bapak memecah lamunan Nayla.
Ia menoleh kearah suara berat itu dan kembali menatap lantai yang beralaskan
kardus.
“Semenjak
Bapak tidak bekerja sebagai supir, kamu juga jarang bergaul dengan teman-teman
sekolah,” keluh Bapak. “Apa kamu malu punya Bapak yang seperti ini?” pertanyaan
Bapak itu bagai mengiris hati, perih dan begitu menusuk. Bukan itu maksud
Nayla, ia hanya tidak tahan dengan sikap dan perlakuan teman-temannya.
****************************************
Nayla
memang berbeda dari teman-teman di sekitarnya. Ketika teman-temannya banyak
bolos sekolah untuk pergi mengamen. Ia memilih untuk duduk manis mendengarkan
pelajaran yang bahkan sulit untuk dicerna dan ketika kebanyakan dari mereka
malas belajar maka Nayla adalah yang paling semangat menuntut ilmu walau ia
bukan termasuk kategori siswa yang cerdas, bahkan ketika ketika teman-temannya
mengajak untuk menjadi pencuri kecil di terminal ia menolaknya, Nayla tak ingin
terjerumus dalam hal yang tidak baik dan menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan sesuatu. Ajaran berperilaku baik melekat pada dirinya.
“Gak
usah banyak banyak gaya lu, Nay.” Celetuk seorang siswa laki-laki di pintu
kelas.
“Apaan
sih, minggir gak! Aku mau keluar.” Tukas Nayla yang berusaha untuk keluar
kelas.
“Heh
anak kampung! Belajar aja sana yang rajin, padahal ujung-ujungnya juga jadi pemulung.”
Ejek Rani yang baru saja memasuki kelas.
Seluruh
kelas seketika riuh dengan suara tawa, ini adalah makanan sehari-hari Nayla dan
ia berusaha menelannya tanpa perlu mengeluarkan balasan.
Sepulang
sekolah biasanya Nayla akan pergi ke pasar, membantu bapak bekerja tapi kali
ini ia memutuskan untuk bersantai di pinggir tanggul yang letaknya tak jauh
dari rumah kontrakan. Ketika sedang asyik memandang ke salah satu gedung tinggi,
tiba-tiba ia dikagetkan dengan segerombolan anak-anak yang berusia lebih muda
darinya berlarian di pinggir tanggul dengan wajah semringah, anak-anak itu terus
meneriaki sebuah nama “Kak Rika!”
Nayla
tertuju pada sosok yang dipanggil oleh anak-anak itu. Seorang perempuan muda
sepertinya berumur duapuluh tahun keatas mengenakan gamis dan jilbab polos
dengan senyum tulus itu tengah dikerumuni oleh anak-anak. Apa yang membuatnya begitu istimewa, pikir Nayla. Ia terus
memperhatikan sosok itu dari atas hingga bawah sampai tidak sadar ada seorang
anak laki-laki yang menabraknya dari belakang.
Brak
Seketika
lamunannya buyar oleh rasa sakit, ia tidak memiliki keseimbangan saat anak laki-laki
itu menabraknya hingga terjerembab. Ketika ia menatap ke depan sebuah tangan terulur
membantunya berdiri.
“Ada
yang sakit gak?” Suara lembut itu menyapanya. Nayla mendongak kearah suara itu
berasal dan terkejut karena pemilik suara lembut itu adalah sosok yang sedari
tadi ia amati.
“Halo,
aku Rika, sepertinya kakak baru pertama kali liat kamu disini.” Jelas Kak Rika
dengan senyum tulusnya.
“I—ya,
Kak … aku baru lewat sini, namaku Nayla.” Ucap Nayla gugup.
“Nayla
baru pulang sekolah ya?” tanya Kak Rika yang melihatnya masih menggunakan
seragam merah putih. Nayla mengangguk mengiyakan dan ia masih malu untuk hanya
sekadar bicara pada kakak cantik didepannya.
“Nayla
mau ikut belajar lagi bareng kakak gak?” ajak Kak Rika yang langsung disambut dengan
anggukan kecil.
Nayla
bergegas pulang ke rumah untuk mengganti baju dan membawa buku beserta alat
tulisnya dan ia berlari terburu-buru dengan perasaan menggebu-gebu untuk
menemui Kak Rika. Sesampainya di mushola kecil yang ditunjukan Kak Rika ia
langsung masuk dan duduk di baris paling belakang. Pelajaran kali ini adalah
berhitung perkalian yang sampai ia duduk di kelas lima pun masih belum bisa
dikuasai tapi pembelajaran yang dilakukan Kak Rika begitu menyenangkan.
Tidak
terasa waktu berjalan begitu cepat walaupun pembelajaran yang menyenangkan ini
berlangsung hingga sore hari rasanya seperti hanya baru berjalan beberapa detik.
Disini kami tidak hanya belajar mata pelajaran tapi juga diajarkan membaca iqro
dan juga disuguhi berbagai macam buku cerita bahkan permainan yang mengasyikan.
Rasanya sangat menyenangkan dan ia tidak ingin kebahagiaan ini cepat berakhir.
Setelah
shalat ashar dan belajar iqro itu berarti pembelajaran oleh Kak Rika sudah
berakhir, begitu banyak wajah penuh harap yang ingin Kak Rika tetap disini dan
tidak kembali pulang. Tapi Kak Rika berjanji akan datang lagi besok dengan membawa
permainan yang lebih seru.
****************************************
Bapak
sangat mendukung Nayla untuk mengikuti setiap kegiatan belajar bersama Kak
Rika. Hari-hari berikutnya dari hari senin sampai hari jumat selepas pulang
sekolah ia tak pernah absen untuk belajar di Rumah Cahaya—nama yang diberikan
Kak Rika untuk mushola kecil yang digunakan sebagai tempat belajar.
Dalam
suatu kesempatan Nayla bertanya kepada Kak Rika tentang latar belakang
membangun Rumah Cahaya dan jawabannya membuat Nayla terkesima. “Karena kakak
yakin dari dalam rumah Allah ini akan lahir cahaya-cahaya baru yang akan
menerangi gelapnya dunia.”
Nayla
saat itu tidak paham maksud dari perkataan Kak Rika. “Rumah Allah?” tanyanya
dengan polos.
“Iya,
tempat ini adalah rumah Allah, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk
kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim.
Karena itulah, Allah begitu sangat mencintai tempat ini dan orang orang yang
berjalan menuju kesini untuk beribadah.” Jelas Kak Rika yang membuat Nayla
berpikir keras untuk memahami setiap kata demi katanya.
“Kita
kan belajar Kak, bukan beribadah.” Tambah Nayla.
Kak
Rika hanya tersenyum melihat tingkah laku Nayla yang sangat polos. “Ibadah itu
tidak hanya shalat, Nay. Apapun yang kita lakukan kalau diniatkan karena Allah
itu akan menjadi ibadah.”
Jika
ada pertemuan maka akan ada pula perpisahan, sudah genap satu tahun Nayla
bertemu Kak Rika dan mengambil banyak pelajaran hidup darinya dan ia tidak
menyangka ketika selesai bercerita mengenai mimpi besarnya di ibukota sembari
memakan bakso yang terlalu banyak kandungan tepung daripada daging adalah moment terakhirnya bertemu Kak Rika,
karena keesokan harinya ia mendengar kabar duka. Kak Rika yang tengah dalam
perjalanan pulang mengalami tabrak lari ketika sedang menyebrang mencari angkot
untuk pulang.
“Nay,
udah seminggu semenjak kepergian kak Rika dan kamu masih belum mau sekolah
bukannya sebentar lagi ujian nasional.” Tegur Bapak.
“Kak
Rika mungkin sudah tidak ada tapi jiwanya terus membara di hati setiap anak
didiknya, kamu bisa terus memperjuangkan mimpi kak Rika. Untuk menebar banyak
cahaya, Nay.” Tambah Bapak.
Semenjak
mendengar nasihat Bapak. Nayla mendapatkan suntikan semangat bahwa ada mimpi
yang harus menjadi kenyataan, ada senyum yang harus dikembangkan dan ada cahaya
yang harus disebarkan.
Nayla
tidak berasal dari keluarga yang berada tapi ia selalu bersyukur atas apa yang
dimilikinya. Semenjak bertemu Kak Rika ia mulai berubah, lebih banyak menerima
daripada meminta, lebih banyak berdoa daripada mengeluh dan lebih banyak
berjuang daripada berleha-leha. Sudah diputuskan ia akan menjadi seperti Kak
Rika, maka ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan menyebarkan cahaya dengan
menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Ada orang-orang yang dengan mudahnya menempuh pendidikan
tinggi dengan fasilitas mewah dan biaya yang besar tapi ada pula yang harus
bekerja keras membanting tulang untuk hanya sekadar membiayai sekolah. Begitulah
kehidupan ada yang dengan mudah mendapatkan sesuatu karena berasal dari
keluarga kaya raya dan ada yang harus tertatih untuk sekadar mengganjal perut
yang lapar. Sudah diputuskan walau tidak terlahir dari keluarga yang berada
tapi ia bisa menempuh pendidikan dengan hasil kerja kerasnya.
****************************************
“Kita gak punya uang buat lanjut S2, Nay.” Ucap Jefri,
salah satu teman dekat Nayla di Universitas Negeri ternama di Jakarta.
“Asal ada kemauan pasti ada jalan, kan bisa apply beasiswa juga.” Balas Nayla.
Jefri menghela nafas berat. “Kalau kamu punya
cita-cita untuk mengajar anak-anak pinggiran tanggul buat apa kamu sekolah
tinggi-tinggi, tinggal cari suntikan dana buat biaya sekolah mereka udah
selesai.”
“Bukannya masalah ini udah pernah dibahas. Kalau tujuan
aku sekolah tinggi bukan hanya sekadar mengajar, tapi aku punya mimpi yang lebih
besar.” Nayla berkata dengan penuh keyakinan.
Kemauan yang dirawat dengan kerja keras dan disirami
dengan tekad yang kuat akan menghasilkan hasil sesuai dengan apa yang diperjuangkan.
Selalu bersyukur dan berusaha lebih daripada yang orang lain lakukan bahkan
harus ditempa lebih keras agar mampu menjalani hidup yang lebih baik. Setiap
orang memiliki privilege
masing-masing. Ada mimpi-mimpi yang begitu mudah didapatkan dan ada pula yang
harus tersungkur, terjatuh bahkan berdarah-darah untuk meraihnya. Mimpinya sama
tercapai tapi dengan effort yang
berbeda, ketika kehidupan harus terus berjalan walau diiringi dengan peluh,
airmata dan pengorbanan itu tak sebanding nilainya dari hanya meminta-minta
kepada orangtua.
Nayla Nur Cahya, namanya adalah doa yang dibisikan ke
bumi dan dijawab oleh langit, Baginya pendidikan itu tidak hanya merubah
seseorang yang tidak tahu menjadi tahu tapi urgensi sejati dari pendidikan
adalah merubah yang kelam menjadi terang. Menjelaskan arti kehidupan yang dapat
memanusiakan manusia dan memberi harapan bahwa pendidikan tidak hanya milik
kalangan berada tapi bisa dimiliki oleh siapapun yang mau berusaha keras. Maka
dari itu Nayla bersikeras ingin menuntut ilmu setinggi mungkin dan dapat
memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya dari ilmu yang dimiliki.
Sekolah Pilar Peradaban Adalah Contoh Pendidikan
Terbaik yang Dilahirkan Bangsa Indonesia.
Sebuah headline
berita yang terpampang di hampir semua televisi lokal itu memuat berita tentang
sekolah gratis yang didirikan Nayla. Sekolah yang mampu menampung banyak anak
yang membutuhkan pendidikan tapi tidak mampu secara finansial. Nayla menerapkan
pendidikan adab sebelum ilmu dan berlandaskan agama yang nantinya akan
melahirkan anak-anak yang beradab dan berakhlak mulia.
TAMAT
_________________________________________________________________________________
“Ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan maka
kecewa adalah hasilnya, pasrah akan keadaan padahal semesta sedang bekerja
membuat luka menjadi teman agar kelak sebuah perjuangan tak hanya mengenal
keberhasilan. Ada kalanya kita perlu memeluk ego dalam diri, berkompromi pada
hati karena hidup adalah rangkaian perjuangan. Jalan juang yang penuh
tantangan, tak selamanya kita berjalan di atas bukit, terkadang kita harus
melewati lembah, menghadapi berbagai kemungkinan jatuh, tergelincir bahkan
menghadapi ketakutan yang tak pernah terbayangkan. Ketika beribu kesulitan
menghadang sungguh Allah telah menyiapkan kemudahan sesudahnya.” –Nayla Nur Cahya.

Komentar
Posting Komentar