Bitter Love

Cinta itu fitrah, yang salah adalah jika kita menindaklanjuti cinta dengan cara yang dilarang agama. Jelas-jelas mendekati zina itu dilarang, baru deketin loh. MasyaAllah dibalik semua itu ternyata ada hikmah yang sangat besar.
Kemarin ada tantangan untuk membuat cerita romance wkwkwk hasilnya pun ya gitu lah absurd banget heheheh. Ini dia cerita cinta dari orang yang belum pernah mencicipi cinta.


Bitter Love

By: Ismilia Nur Cahya

Apa itu cinta

Bagaimana rasanya berdebar

Muka merah merona

Senyum tipis yang terus merekah

Dan genggaman yang tak ingin dilepas

 

***************

“Miaaaaaaaa” gadis bermata hazel dihadapanku berkata, seraya mengguncang pundakku dengan keras. Aku kesal sekali bisa-bisanya dia mengganggu khayalanku.

“Miaaa!! Kamu denger gak sih aku manggil” suara kencang itu membuat seluruh isi kantin melihatku, tapi itu tidak berlangsung lama setelah aku mendekap mulutnya yang cerewet tanpa ampun.

Aku hanya mendengus kesal melihat orang dihadapanku ini.

“Heh bocah nyebelin banget sih hari ini, orang nanya gak ada balesan” ucapnya. “Huft.. aku heran kenapa aku bisa temenan sama orang aneh kek kamu”

“Hei mulai deh drama, yuyun aku denger semua ocehan kamu, bukan aku doang noh semua orang di kantin juga denger, tuh liat semua orang jadi natap kearah kita kan. Gara-gara kamu nih” balasku.

 

Namaku Mia. Kamiliya Indah, aku adalah tipe orang yang tidak menyukai ditatap oleh banyak orang, bagiku semua pandangan itu mengganggu karena tatapan kagum yang mereka pancarkan hanya karena sekedar kagum melihat fisik rupawan diriku, mereka tak tahu bahkan aku bisa sampai di titik seperti ini kalau bukan karena hinaan seseorang ketika dulu aku duduk di bangku SMP. Semua bermula ketika satu kelas tahu aku menyukai anak tampan yang terkenal dingin dan menyebabkan banyak anak kelas yang mulai mengejeknya denganku. Nama laki-laki itu adalah Angga, nama yang ingin kubuang jauh-jauh.

 

“Gaaa... itu mia demen tuh ma lu, gak sekalian bales perasaannya” pertanyaan itu di lontarkan oleh Rio teman dekat Angga.

“Mia yang mana? Yang cantik itu” ucapnya dingin.

“Hah Mia siapa coba?” tanya Rio.

“Tamia kelas D kan” balasnya tanpa melihat ekspresi kaget teman-temanya.

“Ga keknya pala lu harus dipentung dulu biar sadar, temen kelas aja gak inget” Rio kesal dengan temannya yang aneh ini karena tidak mengenali teman sekelas yang hanya berjumlah 32 orang.

 

Aku yang awalnya ingin masuk kelas kini berdiri terpaku di hadapan pintu begitu mendengar ucapan Angga didepan teman-teman kelasku. Mengapa begitu sakit, aku berlari meninggalkan kelas tidak peduli dengan tas yang tertinggal, aku pergi dari kehidupan SMP ku untuk selama-lamanya karena aku memutuskan untuk pindah dari sekolah, ini adalah pemikiran bodoh anak SMP hanya karena insecure aku kini memiliki kepercayaan diri yang rendah. Orangtua ku tidak melarang sama sekali dan tidak menanyakan alasan mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan tak ada waktu untuk memikirkanku, sekarang aku home schooling tapi selain belajar akademik kini aku belajar perawatan karena aku tidak ingin dipandang sebelah mata.

 

*********

 

“Mia, aku tunggu dikelas ya kalau udah selesai ngelamunnya” ucap Yuni ketus. Aku menggenggam tangannya menahan agar tidak pergi “Jangan marah dong kan istirahat masih lama, kamu pesen apa aja aku traktir hari ini” aku memohon dengan tatapan yang dibuat sedih.

“Untung cantik dan baik hati jadi untuk hari ini dimaafin deh” senyum Yuni merekah lebar ketika dua mangkuk baso dan dua es jeruk telah berada dihadapan kami sangat menggoda untuk segera disantap, setelah kami menghabiskan makanan di kantin kami segera menuju kelas. Ketika kembali ke kelas aku begitu bersemangat karena hari ini sekolah akan mengumumkan perwakilan lomba tingkat nasional dan aku sudah mendaftarkan diri kini tinggal menunggu pengumuman itu keluar.

 

“Mia itu cantik, baik, pinter apa sih kurangnya kamu? Banyak cowok yang nembak tapi ditolak semua, aneh banget jangan-jangan kamu suka sama aku ya” pertanyaan aneh itu datang dari Yuni ketika kami telah sampai di kelas sambil menggelidik geli membayangkan jika hal itu benar terjadi.

“Aduh yunitaa.. gak usah mikir kesana, aku cewek normal kok cuman belum nemu aja pangeran yang cocok” balasku.

“Ah masa yang bener, eh tau gak....” ucapan Yuni terpotong karena bu Linda telah memasuki kelas dan dengan wajah berbinar bu Linda langsung mengarah ke mejaku yang kebetulan berada didepan.

“Selamat ya Mia kamu mewakili sekolah untuk lomba tingkat nasional” bu Linda terus mengucapkan ‘selamat’ berulang kali sambil menepuk-nepuk pundakku ditambah ucapan dari teman-teman lainnya di kelas. Aku idak mengikuti pelajaran siang ini karena dipanggil oleh pak Agus ke ruang BK.

 

Sesampainya di ruang Bk aku hanya terdiam bersama pak Agus, aku kesal sekali kenapa patner lombaku belum menunjukan batang hidungnya sehingga harus membuatku menunggu lama, tapi ternyata itu tak selama perkiraanku setelah itu datang laki-laki yang tidak kukenali berpostur tinggi dan manis begitulah aku menggambarkannya dan aku merasa dia mirip dengan aku ketika SMP walau kulitku tak sehitam dia tapi jika semakin dilihat cowok ini manis sekali dan mengapa sekarang ritme jantungku semakin cepat apa ini yang namanya cinta, aku belum pernah merasa berdebar seperti ini pada cowok manapun, jadi ini rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

Setelah penjelasan teknis perlombaan oleh pak Agus yang mengharuskan kami untuk belajar intensif karena melihat jarak lomba yang semakin dekat maka jadwal pulang sekolah digunakan untuk belajar, aku sama sekali belum berkenalan dengan dia, aku mencoba menyapanya terlebih dahulu tapi malah membuat kesan pertama yang aneh.

“Hai.. kamu Aldi ya, salam kenal aku Mia dari kelas XI Ipa 2” aku mengucapkannya kata-kata secepat  mungkin seperti sedang nge-rap, dasar memalukan.

“Oh.. hai” Aldi tetap fokus bada buku yang ia baca.

 

****************

 

Ini pertama kalinya aku tidak ditanggapi oleh cowok, rasanya kesal sekali membuatku semakin penasaran dan ingin menjadikan dia milikku seorang, aku menceritakan kejadian ini ke Yuni dan ia tampak senang karena ternyata aku bisa menyukai lawan jenis kemudian aku diberi banyak sekali tips dan trik mendekati cowok dingin.

 

Pertemuan yang tidak bisa dihindari bersama Aldi, aku terus bertemu dengannya setiap hari bahkan hari libur pun kugunakan untuk belajar bersama di sekolah, aku sudah mencoba semua saran dari Yuni mulai dari berpakaian, menggunakan parfum, model rambut, bahkan kata-kata manis yang belum pernah aku ucapkan kepada laki-laki kini terucap di lidahku tanpa perasaan bersalah, aku merasa sangat murahan hingga pada suatu ketika dia mengatakan kata-kata yang membuatku diam seribu bahasa.

 

“Mia gadis cantik yang dikenal oleh semua laki-laki di seantero sekolah apakah kau berusaha menggodaku?” ucapnya. “kamu pikir kamu hebat karena cantik, memangnya aku harus menanggapimu karena kamu cantik?”

Aku tak tahu tiba-tiba air mata ku mengalir aku benci aku sangat membeci kata-kata yang terucap dari bibirnya, aku keluar dari lab fisika sambil menangis aku tidak peduli pak Agus akan mencariku tapi ketika keluar dari pintu kukira aku menabrak pak Agus tapi ternyata siswa cowok entah siapa aku tak mengenalnya sama sekali, kemudian aku berlari pulang dengan semua rasa sakit.

 

“Wah wah baru nemu gue ada ya cowok jahat macam lu yang bikin cewek nangis, lu apain sih dia? Itu Mia yang jadi patner lomba lu kan.” Ucap laki-laki itu

“Dan gak usah ikut campur itu cuman cewek aneh”

”Cobain dulu deket sama Mia baru lu bisa ngomong kae gitu” Fardan langsung pergi meninggalkan lab begitu mengucapkan kata-kata tajamnya.

“Dasar aneh datang cuman mau ngomong gitu aja, tapi kalau dipikir-pikir tadi jahat juga ya, mungkin Fardan bener gak bisa mandang seseorang dari sekali liat” batinnya lirih. “mungkin gak salah kalau coba deket dulu, gak semua cewek nyebelin”

 

***************

 

Besoknya aku tidak datang ke sekolah, pak Agus terus menghubungiku bertanya kabar apa aku baik-baik saja tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali sampai aku dikagetkan ketika mba Rina datang ke kamarku dan mengabarkan aku kedatangan tamu laki-laki katanya teman sekolah, dan begitu kulihat ternyata yang datang adalah Aldi”

 

Tanpa meminta persetujuanku Aldi segera menarik paksa tanganku keluar rumah, suasana canggung, malu dan kesal bercampur aduk. Aku bahkan tak bisa menatap matanya secara langsung, tapi keheningan itu terpecah oleh sebuah permintaan maaf.

“Maaf mi kalau ada kata-kata yang mungkin menyakitkan” ucapnya lirih

“Pfft..ternyata kamu bisa sopan juga ya” ucapku sedikit tertawa

“Hmm emang cewek aneh cepet banget berubah ekspresi” balasnya

 

Hubungan kami semakin baik, ternyata Aldi adalah orang yang sangat perhatian dan penuh kejutan, bagaimana tidak setiap kami sedang belajar bersama dia selalu membawakan satu kotak susu lengkap dengan kata-kata penyemangat.

“Di kamu gak usah repot-repot bawain ini tiap hari” aku yang sangat malu tak berani menatapnya.

“Hei.. aku bukan orang asing mi dan pemberian itu diberi kepada seseorang yang sudah dianggap dekat. Bukannya kita cukup dekat” balasnya, dasar Aldi apa sekarang mukaku memerah aku semakin tidak ingin menatapnya.

“Hmm padahal aku udah ikutin saran Fardan katanya cewek paling suka kalau diberi hadiah, tapi Mia seperti tidak menyukainya” batin Aldi

 

********************

 

Satu minggu telah berlalu perlombaan telah mengumumkan sang juara, usaha aku yang belajar mati-matian ternyata tidak membuahkan hasil. Aku sangat sedih padahal kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi hasilnya mengecewakan.

“Masih ada kesempatan yang lain mi, mungkin kita belum sepenuhnya berusaha” Suara berat khas yang kukenal itu memecah lamunanku.

“Oh iya di mungkin usaha kita belum maksimal.” balasku

“Pulang sekolah ada waktu Mi?” tanyanya memecahkan keheningan

“Mau belajar lagi? Emang ada lomba apa lagi?” aku begitu bersemangat, ketika melihat wajah Aldi dia hanya tersenyum kecil sehingga membuatku malu.

“Aku mau kita refreshing, kita jalan-jalan nanti pulangnya aku anter ya bocah” Aldi mengeluas rambutku kemudian meninggalkanku dengan muka memerah dan senyum yang terus merekah.

 

Sepulang sekolah aku menyempatkan diri ke toilet memeriksa apakah penampilanku cukup baik untuk diajak jalan, hmm sepertinya tidak ada yang aneh, sebaiknya aku segera menuju gerbang sekolah. Apakah Aldi sedang menungguku, wah membayangkanya saja sudah membuat mukaku merah. Setelah bertemu Aldi dengan motornya membuatku berfikir aneh-aneh apakah aku akan memeluknya saat berboncengan.

“Ekhmm.. kebiasan deh suka ngelamun, yuk naik nanti bisa ketinggalan jadwal film” Aldi menatapku dengan tersenyum dan menambahkan “Jangan lupa pegangan”

 

Sepanjang perjalanan di mall Aldi menggenggam tanganku, rasa apa ini mengapa aku semakin berdebar, apa Aldi merasakan hal yang sama apa dia juga menyukaiku seperti aku yang kini menyukainya.

“Aldi.. hmm bisa gak kita sering pergi jalan-jalan kae gini, aku suka” akhirnya aku mengucapkan kata-kata bodoh yang memalukan, aku tidak ingin menatap wajahnya.

“Mi.. aku juga suka, jadi kita bisa nyempetin waktu libur hari minggu untuk bisa pergi lagi” balas Aldi.

 

Semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan perkataan Aldi, jadi maksud “suka” itu suka denganku kah. Selama perjalanan pulang kami terdiam tidak ada pembicaraan hanya kata selamat tinggal kemudian dia pergi pulang. Apa aku bisa terus bertahan dengan perasaan ini.

 

**********************

 

“Kau sudah gila ya, kalau begitu kau saja yang duluan” Yuni sangat marah begitu kuceritakan tentang kejadian kemarin.

“Masa cewek dulu yang nembak, apa aku kurang ngasih kode ya ke dia” ucapku geram melihat tingkahku sendiri yang kekanak-kanakan.

“Ampe lulus juga gak akan jadi hubungan kalau gak ada yang memulai mi” jawab Yuni dan benar saja setahun kemudian kami disibukkan dengan ujian aku harus bisa fokus agar kami dapat kuliah bersama di Bandung, tapi ternyata takdir berkata lain aku berkuliah di Jakarta dan Aldi di Bandung kita terpisah jarak yang jauh.

 

Semenjak hari-hari penuh ujian sekolah aku belum bertemu Aldi, karena tidak sekelas jadi susah menemuinya apalagi jadwal les yang padat sehingga kami hanya berkomunikasi lewat sosial media tapi tak apa cukup mengurangi rasa rinduku. Hari yang dibenci pun tiba aku berangkat ke Jakarta dan Aldi ke Bandung kami memulai kesibukan masing-masing dan masih menyimpan tanya tanpa jawab mengenai hubungan kami. Memang pertemanan laki-laki dan perempuan masih bisa disebut teman jika setiap malam berkirim pesan, selalu menanya kabar, saling bertukar hadiah dan setidaknya seminggu sekali pergi keluar melepas penat. Apa itu masih dikategorikan berteman. Walau sekarang kami dipisahkan jarak tapi kami menjadi semakin intens mengirim pesan bahkan berjam-jam videocall.

 

*************

Jakarta dengan gemerlap malamnya harusnya membuatku takjub dengan gedung-gedung tingginya tapi yang kurasakan hanya kesepian, mengapa wajah Aldi masih terbayang-bayang di pikiranku, apakah Aldi juga merasakan hal yang sama, sebaiknya aku lekas tidur karena besok jadwal kuliahku pagi.

 

Aku kini telah terbiasa dengan kehidupan Jakarta yang padat dan panas, kehidupan kampusku bisa dibilang baik-baik saja dan tentunya masih ada Yuni yang menemaniku di kampus walau berbeda jurusan tapi kami selalu bertemu saat makan siang, seperti sekarang ini.

“Mi yakin gak mau ke Bandung?” Yuni kembali menanyakan pertanyaan yang membuatku bimbang.

“Apa aku terlihat seperti cewek yang gila pada cowok ya Yun?” aku balik bertanya

“Mia kamu bisa izin seminggu, lagian belum pernah ambil jatah kan” ujar Yuni

“Ok saran yang bagus aku gak mau terus-terusan kae gini, akau akan ke Bandung Yun” balasku dengan tekad kuat aku pasti bisa menyelesaikan rasa penasaran ini.

 

***********

 

Bandung lumayan dingin tapi tak sedingin yang kukira mungkin tergantung letak geografisnya. Aku mungkin sudah gila karena nekat ke Bandung hanya untuk mengunjungi belahan hati yang bahkan belum tentu mencintaiku. Beruntung aku tahu alamatnya jadi tidak perlu repot-repot mencari. Setelah tiba di tempat tujuan aku mulai ragu apa benar perbuatanku ini, kini aku sedang berdiri di hadapan kosan Aldi sebelumnya aku sudah menanyakan apa dia ada dikosan dan Aldi menjawab sedang dikosan, sekarang aku memberikan diri mengetuk pintu kamarnya.

 

“Wah kae kenal nih” Suara berat khas yang kukenal  itu menyapaku tapi bukan berasal dari dalam dan ternyata suara beserta orangnya tepat berada di belakangku.

“Hih apaan sih kenapa diluar” ujarku kesal mendapati Aldi tepat berada di belakangku.

“Terserah aku dong mau di dalam kek atau luar kek” balasnya kepadaku.

 

Aku disuruh masuk kedalam kamarnya, bayangan mengenai kamar laki-laki kotor dan berantakan itu langsung lenyap dari pikiranku. Kamar Aldi sangat rapih dan bersih, membuatku semakin kagum dengannya. Aku langung membicarakan tujuanku datang ke Bandung dan Aldi cukup kaget mendengarnya.

“Kamu ke Bandung cuman karena kangen? Kan nanti bisa ketemu pas liburan semester” reaksi Aldi begitu mendengar tujuan anehku.

“Ya udah lah gak usah dibahas mumpung aku disini besok ajak aku jalan-jalan ya selama seminggu disini” balasku sedikit kecewa.

“Hah Mia.. kamu mau tinggal disini?” tanyanya.

“Iya ini kosan campur kan cuman seminggu doang, ada kamar kosong gak?” aku lekas berdiri dan melihat keluar sepertinya ada kamar kosong di kosan ini.

“Ada, bentar hubungin Ibu kos nya dulu” Aldi segera keluar kamar dengan banyak pertanyaan di kepalanya kemudian dia kembali ke kamar dan mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan masalah tempat tinggal sementaraku.

 

Mengelilingi Bandung dalam waktu seminggu ternyata tidak cukup, waktu berjalan sangat cepat dan mengharuskan aku segera kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke Jakarta aku menyempatkan menyatakan perasaanku dihadapan Aldi, awalnya tidak ada reaksi kemudian kata “Iya” menjadi jawaban yang membuatku senang tak terkira dan aku kembali ke Jakarta dengan status baru yaitu pacar Aldi.

 

Setelah sampai di Jakarta aku segera memberitahu Yuni dan responya gembira karena baginya itu adalah kemajuan dalam masalah percintaanku, aku bahagia sekali bisa memanggil kata sayang ke orang yang memang kusayangi tapi anehnya kenapa sekarang Aldi balas pesannya lama sekali, apa ia sibuk atau sedang cape jadi membuatku khawatir.

 

“Apa gue gila kenapa gue menerima cintanya, kenapa gini dan?” Aldi bertanya ke Fardan yang kini ada di hadapanya.

“Ya lumayan gila padahal lu gak punya perasaan ke Mia, kenapa gak ditolak? Tanya Fardan.

“Gak mungkin lah gue nolak dalam keadaan dia lagi ke Bandung” ujar aldi.

“Nih gue ingetin jangan melangkah terlalu jauh bahaya di, nanti ada yang tersakiti” ucapan Fardan menjawab segalanya.

 

*************

Aldi sudah memutuskan akan ke Jakarta menemui Mia dan meluruskan semuanya.

“Aldi maaf ya buat kamu nunggu lama” aku langsung merangkul Aldi dari belakang, kami berjanjian dekat kafe kampusku, pacarku sangat perhatian sampai rela mengunjungiku jauh-jauh kesini padahal belum lama aku pulang dari Bandung.

“Mi sekarang duduk dulu ada yang mau aku bicarain tentang hubungan kita” jelas Aldi

“Kita” batinku. “Aku merasa gugup mendengarnya”

“Mia jangan melamun kebiasaan deh, jadi gini sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan” penjelasan Aldi membuatku tak bisa berkata-kata, apa ini sebuah kebohongan.

 

“Mia aku sejak awal tidak pernah menyukai kamu mungkin ini adalah salah paham, aku minta maaf mi” ucapnya.

“Kamu gak salah, disini aku yang salah karena terlalu berharap besar” aku tak sanggup menahan air mata, aku menangis ya aku menangis di pelukannya harusnya aku membencinya tapi kenapa aku tidak bisa.

“Mia.. kalau memang kita berjodoh maka kita akan bertemu” Aldi berusaha menenangkanku yang terus terisak dalam tangisan.

“Aku akan selalu menunggu waktu itu datang, semoga kita berjodoh” ucapku.

 

Tidak ada yang perlu dipertahankan dari hubungan yang di paksakan, kini hanya ada penyesalan yang semakin dalam, kenapa aku bertindak dengan hanya memikirkan diriku sendiri tanpa melihat situasi yang sebenarnya. Aku hanya bisa menunggu dan berdoa semoga Aldi adalah laki-laki yang akan menjadi teman hidupku suatu saat kelak.

 

Cinta itu tak semanis yang dibayangkan

Awalnya memang indah

Tapi menjadi mati ketika daunnya mulai layu

Tidak ada akar kuat yang menompang

Hingga akhirnya pohon itu tumbang

Karena tidak ada air untuk menghidupinya

Air yang dapat membuat hubungan sejuk

Kini kering tak mengalir dan tak berbekas

Jika memang ditakdirkan

Air itu akan mengalir kembali dan menguatkan akar

Hingga tumbuh menjadi pohon yang kuat


Komentar