TERSESAT [Music Story Insya Allah – Maher Zain]

Eits... ada yang inget lagu Insya Allah – Maher Zain? Kali ini aku akan membuat music story dari lagu dibawah ini, hehehe.
Insya Allah – Maher Zain
Everytime you feel like you cannot go on
Tiap kali kau merasa putus asa
You feel so lost
Kau merasa tersesat
That you're so alone
Merasa begitu kesepian
All you see is night
Yang kau lihat hanyalah malam
And darkness all around
Dan kegelapan di sekelilingmu
You feel so helpless
Kau merasa putus asa
You can’t see which way to go
Kau tak bisa melihat jalan yang harus dilalui

Don’t despair and never loose hope
Jangan putus asa dan jangan hilang harapan
Cause Allah is always by your side
Karna Allah selalu bersamamu
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
InsyaAllah kan kau temukan jalan

Everytime you commit one more mistake
Tiap kali kau melakukan kesalahan
You feel you can’t repent
Kau merasa tak bisa bertobat
And that it's way too late
Dan semuanya sudah terlambat
Your’re so confused, wrong decisions you have made
kau begitu bingung, keputusan salah yang tlah kau buat
Haunt your mind and your heart is full of shame
Menghantui pikiranmu dan hatimu dipenuhi rasa malu

Turn to Allah
Kembalilah kepada Allah
He’s never far away
Dia tak pernah jauh darimu
Put your trust in Him
Percayalah padaNya
Raise your hands and pray
Angkat tanganmu dan berdoalah

OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
Bimbinglah langkahku jangan biarkan aku tersesat
You’re the only one that showed me the way,
Hanya Engkau yang bisa menunjukkan jalan
Showed me the way x2
Menunjukkan jalan
Insyaallah x3
Insya Allah you’ll find your way
InsyaAllah kan kau temukan jalan

Music Story Insya Allah – Maher Zain
Tersesat
By Ismilia

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (QS. An-Nuur: 42).

Aku memberhentikan murotal yang sudah 4 jam berbunyi itu, volume yang kusetel sebenarnya tidak besar tapi telingaku begitu tajam ketika Qur’an surat An-Nuur ayat 42 itu terdengar, aku terdiam sejenak, mencoba untuk sedikit merenungi arti ayat ini. Ayat yang hanya berjumlah 64 ayat di surat ke-23 berada pada juz 18 ini membuatku sedikit tersadar.

“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi”

Seketika aku segera melirik ke meja yang dipenuhi oleh tumpukan jurnal, paper, makanan ringan yang berserakan, kopi yang sudah dingin dan tentu saja laptop yang dipaksa menyala berjam-jam. Apa yang sudah kulakukan ini benar, bukankah tugas kita di bumi untuk beribadah. Toh, semua yang ada di di langit dan bumi adalah milik Allah dan kita pun akan kembali ke pangkuannya. Semua mahluk hidup yang bernyawa pasti akan mengalami kematian yang tak pasti itu waktunya, apa aku sudah siap untuk menemui Rabb ku dengan keadaan seperti ini.

Aku sudah menjauh terlalu dalam, tersesat dalam dunia fana. Kulirik sebuah benda berwarna merah yang terlihat mencolok di antara koleksi buku-buku pelajaran, disaat kuambil ternyata debu tipis bersarang pada benda itu. Ya itu adalah benda yang mungkin kusentuh 2 tahun yang lalu. Qur’an merah terjemah, sebuah hadiah dari teman terbaik yang kini bahkan tak pernah mengabariku.

********************************

Namaku Syifa, lengkapnya Syifa Khoirunnisa mahasiswi jurusan Pendidikan Biologi. Pagi ini aku disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat karena mengambil 23 sks membuat hari-hariku dipenuhi tugas, presentasi dan uji lab, kuliah terasa sangat membosankan karena harus bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan keadaan untuk meraup keuntungan. Jika banyak tugas, maka banyak teman yang datang menghampiriku, jika sudah selesai maka mereka pergi begitu saja. Itu adalah hal yang biasa bagiku, sendirian adalah cara terbaik untuk mempertahankan kuliahku yang sudah menginjak tingkat 3.

“Syif malam ini sibuk gak? Anak kelas ngajakin hangout,” ajakan tiba-tiba itu datang dari depanku, seorang gadis cantik bermata sipit yang tak pernah absen mengajaku pergi jika ada agenda kelas.
“Tidak sal.” balasku singkat.
Namanya Salsa, ketua tingkat yang berhati baik dan tak pernah memanfaatkanku dalam urusan tugas, kini Salsa menunjukan ekspresi sedih begitu melihatku pergi dari hadapanya.
“Gak usah diajak sal, dia pasti gak mau.” timpal Rizki yang sedari tadi memperhatikan.

***************************

Langit malam kota Bandung, kini dihiasi bintang membuat indah mata memandang. Benda langit yang menghiasi angkasa itu menemani hari-hari menyendiriku. Aku merasa putus asa akan hidup ini, aku seperti tak bisa melihat jalan yang dilalui. Apakah aku sudah berjalan lurus atau mungkin selama ini sudah berbelok. Pikiranku kosong membuatku melamun tanpa arti, hingga akhirnya adzan isya berkumandang, membuatku sedikit kaget karena ternyata aku melamun cukup lama dari semenjak maghrib sampai menjelang isya.

Selepas sholat isya aku kembali berkutik dengan laptopku, mata ini sudah tak kuat menahan perih sampai akhirnya aku memutuskan menggunakan kacamata anti radiasi yang hanya digunakan ketika mengerjakan tugas, ketika baru memulai mengerjakan tiba-tiba saja ada notifikasi masuk dari handphone. Ah paling hanya anak kelas yang bertanya tugas, saat aku mengecek ternyata pesan dari Salsa.

“Syif kalau ada apa-apa bisa hubungi aku jangan malu, aku gak bermaksud buruk kok. Kalau memang kamu gak bisa cerita sama aku kan kamu bisa cerita sama Allah, karena aku hanya manusia biasa aku hanya bisa mendengar dan memberikan solusi yang biasa saja tapi dengan Allah yang maha mendengar dan maha mengabulkan doa maka akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Mungkin kamu bisa mencobanya.” bunyi pesan itu secara tidak langsung bagai menamparku.

Mengapa tanganku bergetar hebat, tak bisa kumengerti kini aku menangis. Air mata itu jatuh tanpa sadar menetes diantara tumpukan jurnalku, aku segera berbaring di kasur menutupi diri dengan selimut. Aku semakin menangis terisak dalam tangisan yang tak bisa kuberhentikan. Aku tak mengerti ada apa dengan diriku, seketika aku membayangkan pesan yang dikirim Salsa padaku. Aku membayangkan situasi yang terjadi, mengapa aku bisa melupakan hal yang sangat penting, aku punya Tuhan yaitu Allah SWT.

Allah tak pernah meninggalkan hambanya, Allah selalu bersama hambanya karena segala sesuatu selain Allah pasti akan meninggalkan kita. Apapun itu yang selain-Nya tak akan terus menemani kita. Pada saatnya nanti, segala sesuatu selain Allah itu sudah pasti akan meninggalkan kita. Bagaimanapun kita kuat menahannya. Mulai dari kenikmatan dunia, kekayaan, pangkat, istri, anak, status sosial, semua itu pasti akan meninggalkan kita.

Allah selalu memberikan jalan pulang tuk kembali, mengapa aku begitu bodoh tidak menyadarinya sama sekali, apakah aku yang sudah berdosa ini layak menerima taubatNya. Aku seketika berdiri mengambil Qur’an merah yang tergeletak cantik di rak buku, aku langsung mencari surat At-Taubah. Mataku terbelalak kaget ketika menemukan ayat yang berbunyi.

ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
”Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Quran Surat At-Taubah Ayat 27 itu bagai mengingatkanku begitu dashyat, bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Tapi mengapa aku merasa tidak mampu bertaubat karena tiap kali aku berbuat salah pasti akan kuulangi kembali. Apa sudah terlambat untuku bertaubat, apa ini keputusan yang benar atau aku akan mengulang kesalahan yang sama. Rasa bersalah itu menghantui pikiran dan hatiku, bagai dipenuhi rasa malu yang teramat dalam. Aku malu ketika bersimpuh dihadapanMu aku masih penuh dengan dosa, aku malu ketika berdoa padaMu meminta apapun yang kuinginkan tanpa pernah menjalankan kewajibanku sebagai hamba yang beriman.

Tok tok tok

Bunyi ketukan pintu mengagetkanku, siapa yang bertamu malam-malam begini. 
"Ah biarkan saja, paling hanya angin." batinku.
“Assalamualaikum ... Syifa, udah tidur ya?” suara lembut yang begitu kukenal menyapaku, ternyata yang mengetuk tadi bukan angin.
“Waalaikumsalam” aku berdiri membukakan pintu dan terbelalak kaget melihat Salsa muncul dihadapanku.
“Kamu kenapa syif matamu bengkak?” tanyanya penuh rasa khawatir, sembari menggandeng tanganku dan masuk kedalam kamar.

Begitu masuk kamar aku langsung memeluknya tanpa meminta izin terlebih dahulu, menangis dalam pelukannya dan entah mengapa perasaanku menjadi lega. Kemudian aku menceritakan semua hal yang kualami. Padahal aku belum pernah terbuka kepada siapapun, tapi kini aku bisa terbuka dan memeluk semua rasa sakit yang tertahan, aku kini merasa lega kukira aku sudah tersesat terlalu jauh, tapi Allah mengirimkan Salsa untuk mengingatkanku kembali ke jalanNya. Karena Allah tak pernah jauh dari hambanya. Dia lah Rabb yang tidak dilanda rasa kantuk dan tidak pernah tidur. Tuhan yang bersemayam di atas ‘Arsy.

“Bagaimana rasanya curhat ke Allah?” tiba-tiba saja Salsa melontarkan pertanyaan ke arahku.
“Sangat memuaskan.” jawabku sembari melepas dari pelukan Salsa.
“Aku khawatir sama kamu, jadi aku berkunjung kesini. Lagian kita satu kosan tapi jarang bertemu ... lain kali sering-sering ya kae gini.” ungkap Salsa, kemudian ia mengambil Qur’an merahku dan mendekapkannya kedalam dadaku “jangan lupa angkat tanganmu dan berdoa, sesungguhnya Allah itu dekat, jika kau berjalan menujuNya maka Allah akan berlari menemuimu syif, kembalilah menuju jalanNya. Allah tak pernah jauh percayalah!”

Aku tak mengerti selalu saja ada kejutan dibalik semua peristiwa, begitupun Allah menetapkan sebuah takdir kepada umatnya. Allah tidak akan merubah siapapun sebelum orang itu merubah dirinya sendiri, kini aku mulai sedikit-sedikit berubah ke arah yang lebih baik maka kumohon bimbing langkahku agar tidak tersesat ya Allah Rabbul ‘Alamin, hanya engkau yang bisa menunjukan jalan. Insya Allah ini adalah jalan terbaik, kembali mengkaji Qur’an dan sunnah sesuai tuntutan syariat agar tetap bisa berada diatas jalanNya.

Insya Allah you’ll find your way
InsyaAllah kan kau temukan jalan

SELESAI


Komentar